Daging yang menyeberangi batas

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Perjalanan peternak Jawa Timur menuju pasar global bukan sekadar soal menjual daging ke luar negeri. Ia adalah cerita tentang perubahan cara berpikir dari bertahan hidup menjadi berdaya saing, dari pasar lokal menjadi pemain dunia.

Surabaya (ANTARA) - Di sudut desa yang tak pernah benar-benar sepi dari suara ternak, seorang peternak menimbang seekor sapi dengan tatapan penuh hitungan.

Bukan sekadar soal bobot atau harga jual di pasar lokal, melainkan tentang kemungkinan yang lebih jauh, yakni tentang bagaimana hasil peliharaannya suatu hari bisa menembus batas negeri.

Di kandang sederhana itu, arah usaha peternakan perlahan berubah mulai dari rutinitas harian menjadi bagian dari arus perdagangan global yang kian terbuka.

Dorongan untuk menembus pasar internasional bukan sekadar ambisi. Ia lahir dari kenyataan bahwa kebutuhan daging dunia terus meningkat, sementara Indonesia yang selama ini masih bergantung pada impor justru memiliki potensi besar untuk membalik keadaan.

Jawa Timur, sebagai salah satu lumbung ternak nasional, kini berada di titik krusial untuk bisa bertahan sebagai pemasok domestik atau naik kelas menjadi pemain global.

Data terbaru menunjukkan, kekuatan sektor peternakan di Jawa Timur tidak bisa dipandang sebelah mata. Ketersediaan sapi mencapai lebih dari 629 ribu ekor, jauh melampaui kebutuhan kurban yang hanya sekitar 70 ribu ekor.

Surplus juga terjadi pada kambing dan domba, masing-masing ratusan ribu ekor. Angka-angka ini bukan sekadar statistik, melainkan sinyal kuat bahwa kapasitas produksi sudah melampaui kebutuhan lokal.

Namun, angka surplus hanyalah pintu masuk. Tantangan sesungguhnya justru dimulai ketika pasar yang dituju adalah dunia.


Pasar global

Pasar global daging bukan ruang kosong. Ia telah lama dikuasai oleh negara-negara seperti Brasil dan Australia yang memiliki sistem produksi efisien, standar kualitas tinggi, serta rantai pasok yang matang.

Ketika Jawa Timur menyatakan kesiapan memasok daging ke negara seperti Arab Saudi atau Malaysia, maka standar yang dihadapi bukan lagi sekadar kuantitas, tetapi kualitas, konsistensi, dan kepercayaan.

Di sinilah transformasi peternakan menjadi penting. Pengembangan sapi unggulan seperti Belgian Blue melalui teknologi inseminasi buatan dan embrio transfer menjadi contoh nyata bagaimana inovasi mulai diadopsi.

Baca juga: Gubernur Khofifah dorong peternak Jatim penuhi daging di pasar global

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.