CENTCOM: Kapal terjebak di Teluk Persia, 87 negara terdampak

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Washington (ANTARA) - Kapal-kapal yang terjebak di Teluk Persia akibat pembatasan navigasi oleh Amerika Serikat dan Iran di Selat Hormuz mewakili 87 negara, kata Komandan CENTCOM Laksamana Brad Cooper, Senin.

Kapal-kapal tersebut merupakan pihak netral dan tidak terlibat konflik, kata Cooper merujuk pada pernyataan Presiden AS Donald Trump seperti yang dibagikan dalam isi pernyataan akun X Komando Pusat AS.

Ia menambahkan, pasukan AS telah berkomunikasi dengan puluhan kapal serta perusahaan pelayaran untuk mendorong dimulainya kembali arus lalu lintas normal melalui jalur perairan strategis tersebut.

Sehari sebelumnya, Trump mengumumkan “Project Freedom” guna membantu kapal-kapal yang terjebak di Selat Hormuz dan ingin meninggalkan kawasan itu di tengah meningkatnya ketegangan.

CENTCOM menyatakan dukungan militer terhadap inisiatif tersebut mencakup kapal perusak berpeluru kendali, lebih dari 100 pesawat berbasis darat dan laut, serta platform nirawak multi-domain.

Baca juga: Media sebut Iran klaim tembak fregat AS di Hormuz, Washington bantah

Selain itu, sekitar 15.000 personel militer dikerahkan dalam operasi tersebut, yang menurut CENTCOM dimulai pada Senin pagi waktu Timur Tengah.

Media Iran, IRIB, melaporkan militer Iran mencegah kapal AS melintas dengan menyerang sebuah kapal perang dengan menggunakan dua rudal. Klaim ini kemudian dibantah oleh pihak CENTCOM.

Menurut CENTCOM, tidak ada kapal AS yang terkena serangan, dan operasi di wilayah tersebut tetap berjalan sesuai rencana untuk menjaga keamanan jalur pelayaran internasional.

Trump sebelumnya memperingatkan Iran akan menghadapi konsekuensi besar jika mencoba menargetkan kapal AS di sekitar Selat Hormuz, jalur vital bagi perdagangan energi global.

Ketegangan di kawasan itu meningkatkan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan minyak dunia, sementara upaya diplomatik dan militer terus berlangsung untuk memastikan kebebasan navigasi tetap terjaga.

Sumber: Sputnik

Baca juga: ASEAN: Jaga keamanan rantai pasok global di tengah krisis Hormuz

Penerjemah: Yoanita Hastryka Djohan
Editor: Rahmad Nasution
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.