Jakarta (ANTARA) - Di dapur-dapur rumah tangga Indonesia, keberadaan tabung LPG telah menjadi bagian dari rutinitas harian yang nyaris tidak lagi dipikirkan asal-usulnya.
Banyak orang hanya memastikan gas tersedia agar kompor tetap menyala untuk memasak sarapan, merebus air, atau menyiapkan makanan keluarga.
Namun, di balik nyala api biru itu, tersembunyi persoalan besar yang perlahan menjadi tantangan serius bagi ketahanan energi nasional.
Indonesia, saat ini masih sangat bergantung pada impor LPG. Dari total kebutuhan nasional, sekitar 80 persen masih dipenuhi dari luar negeri atau mencapai sekitar 7,2 juta ton per tahun.
Angka tersebut menjadi cerminan betapa dapur rumah tangga Indonesia masih sangat dipengaruhi dinamika global. Ketika harga energi dunia bergejolak, konflik geopolitik meningkat, atau jalur distribusi terganggu, dampaknya dapat langsung terasa, hingga ke tingkat masyarakat.
Di tengah situasi itu, pembahasan mengenai pengembangan dimethyl ether atau DME mulai mendapat perhatian sebagai bagian dari strategi jangka panjang energi nasional.
DME menawarkan cara pandang yang berbeda mengenai subsidi energi, terutama dalam kaitannya dengan proyek hilirisasi batu bara menjadi DME.
Subsidi untuk DME tidak bisa dilihat hanya sebagai beban fiskal yang menguras anggaran negara. Ada dimensi yang lebih luas, yakni bagaimana subsidi tersebut dapat menciptakan nilai tambah domestik dan memperkuat ketahanan energi nasional.
Dalam hal ini, negara tidak hanya berbicara mengenai biaya jangka pendek, tetapi juga tentang kemampuan membangun fondasi ekonomi dan energi yang lebih mandiri.
Selama ini, diskusi subsidi energi di Indonesia sering terjebak pada perdebatan angka. Publik cenderung melihat subsidi semata sebagai pengeluaran negara yang harus ditekan agar APBN tetap sehat.
Padahal, tidak semua subsidi memiliki dampak yang sama. Subsidi terhadap barang impor tentu berbeda dampaknya dibanding subsidi terhadap industri domestik yang mampu menciptakan rantai ekonomi di dalam negeri.
Misalnya, jika subsidi diberikan untuk DME yang diproduksi dari sumber daya dalam negeri, maka uang negara tetap berputar di Indonesia.
Perputaran ekonomi
Aktivitas produksi melibatkan industri nasional, tenaga kerja domestik, transportasi, hingga pengembangan teknologi. Efek ekonominya tidak berhenti pada produk akhir, melainkan menciptakan perputaran ekonomi baru yang lebih luas.
Di sisi lain, Indonesia memiliki cadangan batu bara kalori rendah atau low rank coal dalam jumlah besar yang selama ini belum dimanfaatkan optimal. Bahkan, terdapat sekitar 600 juta ton batu bara stranded yang minim pasar.
Dalam kondisi transisi energi global, batu bara jenis ini semakin sulit bersaing di pasar internasional. Oleh karena itu, mengubahnya menjadi DME dipandang sebagai salah satu cara memanfaatkan sumber daya yang sebelumnya kurang bernilai.
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·