Presiden Amerika Serikat Donald Trump menunda rencana serangan militer tertarget ke Iran yang sedianya diluncurkan pada Selasa (19/5/2026), akibat adanya permintaan dari negara-negara sekutu di kawasan Teluk.
Keputusan pembatalan operasi bersandi Operasi Sledgehammer tersebut memicu pembicaraan telepon yang sangat tegang antara Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada hari yang sama, seperti dilansir dari Bloombergtechnoz.
Penundaan operasi militer ini berjarak sekitar 24 hari setelah pembicaraan awal kedua pemimpin pada hari Minggu sebelumnya, di mana Trump sempat mengisyaratkan akan melanjutkan serangan baru ke Iran.
Negara-negara Teluk seperti Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab terus menjalin kontak erat dengan Gedung Putih serta mediator dari Pakistan guna menyusun kerangka kerja negosiasi diplomatik sejak penundaan diumumkan.
"Kami sedang berada di tahap akhir dengan Iran. Kita lihat saja apa yang akan terjadi," ujar Trump kepada para jurnalis pada Rabu pagi terkait upaya menggolkan kesepakatan damai.
Trump menambahkan bahwa pihak-pihak terkait akan mencapai kesepakatan atau melakukan beberapa hal yang sedikit buruk, meski ia berharap hal buruk tersebut tidak terjadi.
"Kita akan mencapai kesepakatan atau kita akan melakukan beberapa hal yang sedikit buruk. Tapi mudah-mudahan hal buruk itu tidak terjadi," kata Trump, Presiden Amerika Serikat.
Sikap Trump yang memilih jalur diplomasi sementara waktu ini memicu frustrasi Netanyahu yang menilai penundaan tersebut hanya menguntungkan posisi Iran.
Netanyahu menyampaikan langsung kekecewaannya dalam percakapan telepon selama satu jam dan mendesak Trump agar tetap melanjutkan aksi militer karena menganggap penundaan adalah sebuah kesalahan.
Frustrasi meluas ke lingkaran pejabat tinggi Israel yang mengkritik gaya kepemimpinan Trump karena dinilai kerap melontarkan ancaman tetapi kemudian menunda tindakan dan memberi ruang bagi diplomasi Iran.
"Dia akan melakukan apa pun yang saya ingin dia lakukan," kata Trump, Presiden Amerika Serikat.
Trump mengklaim situasi dengan Iran saat ini berada di ambang batas dan masih layak diberi waktu beberapa hari lagi untuk proses diplomasi demi menyelamatkan nyawa.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran mengonfirmasi bahwa Teheran dan Washington masih terus bertukar pesan melalui mediator Pakistan pada Rabu.
Kendati demikian, kesenjangan utama kedua pihak belum menyempit karena Iran belum mundur dari tuntutan utama terkait program nuklir dan aset-aset yang dibekukan.
"Jika kami tidak mendapatkan jawaban yang tepat, semuanya akan berlangsung sangat cepat. Kami semua siap bergerak," ujar Trump, Presiden Amerika Serikat.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·