Donald Trump Temui Xi Jinping Bahas Tarif dan Teknologi di Beijing

Sedang Trending 3 jam yang lalu

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengadakan pertemuan tingkat tinggi dengan Pemimpin China Xi Jinping di Beijing pada pekan ini guna membahas pergeseran fokus diplomasi kedua negara yang kini menitikberatkan pada isu tarif, teknologi, Taiwan, dan konflik Iran.

Kunjungan ini menandai kembalinya Trump ke China setelah hampir satu dekade, menggantikan dinamika lama yang sebelumnya didominasi oleh isu hak asasi manusia. Dilansir dari CNN, fokus utama pembicaraan kini telah bergeser dari masalah nilai-nilai menuju prioritas perdagangan dan ekonomi yang mendesak.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio kini cenderung lebih pasif dalam mengkritik catatan hak asasi manusia China. Sebaliknya, peran utama dalam mengelola hubungan bilateral ini diambil alih oleh Menteri Keuangan Scott Bessent yang sebelumnya telah bertemu dengan pejabat terkait dari China di Seoul.

Dominasi Xi Jinping di dalam negeri semakin kuat saat ia membentuk kembali kekuatan militer dan ekonomi China melalui sistem satu partai. Namun, langkah-langkah politik Trump sejak kembali ke Gedung Putih pada awal 2025 dinilai oleh sejumlah pihak justru memberikan keuntungan strategis bagi posisi China di panggung dunia.

Di media sosial China, Trump mendapatkan julukan khusus yang merujuk pada pengaruh kebijakannya terhadap kemajuan posisi global Beijing. Narasi yang berkembang di publik China melihat Amerika Serikat sebagai kekuatan yang sedang menurun akibat perpecahan domestik dan keterlibatan dalam konflik luar negeri.

"Nation-Building Trump" tulis pengguna media sosial di China yang merupakan sindiran atas kebijakan luar negeri Trump yang dianggap justru memperkuat posisi China secara tidak langsung sebagaimana dilaporkan CNN.

Perang di Iran telah mengalihkan sumber daya Amerika Serikat dan menghabiskan stok amunisi mereka. Kondisi ini terjadi di saat China memegang kendali atas pasokan tanah jarang dunia yang sangat penting untuk produksi senjata modern.

China juga memiliki posisi tawar kuat karena cadangan minyak dan transisinya ke energi hijau yang membuat mereka lebih tahan terhadap gejolak pasar. Trump diprediksi akan meminta Xi Jinping untuk memberikan tekanan lebih besar kepada Iran sebagai salah satu mitra terdekat Beijing.

Guna meredakan ketegangan menjelang pemilu paruh waktu di Amerika Serikat, China memiliki opsi untuk melakukan pembelian besar-besaran terhadap produk pertanian dan pesawat Boeing. Hal ini dapat menjadi capaian nyata yang bisa dipamerkan oleh pemerintahan Trump kepada para pemilihnya.

Terkait mekanisme pengelolaan perdagangan bilateral, pejabat pemerintahan Trump mulai menggulirkan gagasan mengenai pembentukan dewan perdagangan bersama. Pihak China yang memiliki birokrasi luas dinilai akan menyambut usulan ini sebagai langkah formalitas.

"win-win" kata pihak-pihak terkait mengenai potensi pembentukan dewan perdagangan tersebut sebagai solusi birokrasi atas permintaan Amerika Serikat.

Meskipun bersedia melakukan kesepakatan pembelian produk, Xi Jinping dipastikan tidak akan menyentuh masalah struktural yang selama ini dituduhkan Washington memberikan keuntungan tidak adil bagi Beijing. China tetap melanjutkan kemajuan di bidang kendaraan listrik dan robotika guna mengurangi ketergantungan pada tenaga kerja yang mulai menyusut.

"most important" ujar pihak Beijing merujuk pada status isu Taiwan yang tetap menjadi kategori paling krusial dalam kedaulatan mereka di hadapan Amerika Serikat.

Upaya Amerika Serikat dalam membatasi ekspor teknologi belum sepenuhnya menghambat kemajuan China. Sistem top-down yang dijalankan Xi Jinping memastikan dana dan kebijakan dialirkan secara tepat sasaran ke sektor-sektor yang dianggap strategis untuk masa depan ekonomi mereka.