Presiden Amerika Serikat Donald Trump dijadwalkan tiba di Beijing pada Rabu (13/5/2026) untuk melakukan kunjungan kenegaraan pertama dalam sepuluh tahun terakhir ke China. Trump akan berada di Beijing hingga Jumat (15/5/2026) untuk bertemu Presiden Xi Jinping guna membahas berbagai agenda strategis.
Dilansir dari Detikcom, kunjungan ini merupakan momen penting setelah tertunda dari jadwal semula pada Maret lalu akibat konflik militer antara Amerika Serikat dan Iran. Kedua pemimpin negara dengan ekonomi terbesar di dunia ini dijadwalkan melangsungkan pembicaraan intensif pada Kamis (14/5/2026) dan Jumat (15/5/2026).
Sebelum keberangkatannya, Trump mengutarakan ekspektasinya untuk melakukan diskusi mendalam mengenai situasi Iran dengan Xi Jinping. China diketahui merupakan pelanggan utama minyak Iran yang saat ini tengah berada di bawah sanksi Amerika Serikat.
Meski terdapat ketegangan, Trump mencoba mencairkan suasana dengan memberikan penilaian positif terhadap sikap Presiden Xi sejauh ini terkait isu tersebut.
"Saya pikir kita tidak membutuhkan bantuan apa pun terkait Iran. Kita akan memenangkannya dengan satu atau lain cara. Kita akan memenangkannya secara damai atau sebaliknya," kata Trump kepada wartawan saat meninggalkan Gedung Putih.
Selain masalah Iran, agenda pembicaraan akan mencakup isu sensitif mengenai penjualan senjata Amerika Serikat ke Taiwan. Hal ini menjadi sorotan karena menandakan pergeseran sikap historis Washington yang biasanya tidak berkonsultasi dengan Beijing mengenai dukungan terhadap Taiwan.
Topik lain yang diprediksi akan dibahas adalah kendali ekspor logam tanah jarang oleh China serta dinamika hubungan perdagangan bilateral yang selama ini penuh tantangan.
"Kita punya banyak hal untuk dibahas. Sejujurnya, saya tidak akan mengatakan Iran adalah salah satunya, karena kita sudah mengendalikan Iran dengan sangat baik," kata Trump.
Terkait konflik di Iran yang pecah dua setengah bulan lalu, Trump menegaskan posisi Amerika Serikat yang merasa telah memiliki kendali penuh atas situasi di Selat Hormuz tanpa perlu bantuan pihak luar.
"Kita akan membuat kesepakatan atau mereka akan dihancurkan," kata Trump.
Gedung Putih mengonfirmasi bahwa Trump didampingi oleh delegasi besar yang terdiri dari para konglomerat dan eksekutif puncak Amerika Serikat. Nama-nama besar seperti CEO Tesla Elon Musk dan CEO Apple Tim Cook turut serta dalam rombongan kepresidenan ini.
Partisipasi sektor swasta juga terlihat menonjol dengan kehadiran pimpinan dari berbagai perusahaan raksasa lintas industri.
Tokoh-tokoh dari sektor keuangan dan teknologi yang ikut dalam delegasi tersebut antara lain pimpinan dari Boeing, Cisco, Visa, Mastercard, Qualcomm, hingga Micron.
44 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·