DPR Ingatkan Pemerintah Antisipasi Fenomena Turun Kelas Konsumsi BBM

Sedang Trending 2 jam yang lalu

Anggota Komisi VI DPR RI Firnando Ganinduto memperingatkan Pemerintah untuk mengantisipasi potensi perpindahan konsumsi masyarakat dari BBM nonsubsidi ke BBM subsidi. Fenomena ini dipicu oleh lonjakan harga bahan bakar nonsubsidi yang mulai berlaku pada Sabtu (18/4/2026).

Kenaikan harga tersebut menyasar jenis bahan bakar seperti Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex. Dilansir dari Kompas, langkah penyesuaian harga ini dipengaruhi oleh dinamika geopolitik global yang memicu kenaikan harga minyak mentah dunia.

Firnando Ganinduto menyatakan bahwa kelompok masyarakat kelas menengah menjadi pihak yang paling terdampak oleh kebijakan ini. Menurutnya, lonjakan pengeluaran rumah tangga akibat energi dapat menekan daya beli secara signifikan.

"Kondisi ini dapat memicu fenomena 'turun kelas energi', yaitu peralihan konsumsi dari BBM nonsubsidi ke BBM subsidi," kata Firnando.

Legislator tersebut menekankan bahwa pergeseran konsumsi ke produk bersubsidi akan berdampak langsung pada ketahanan APBN. Jika tidak dikendalikan, beban anggaran negara untuk subsidi energi dipastikan akan membengkak.

"Pengawasan subsidi harus diperketat, distribusi dijaga, serta stabilisasi harga pangan dan kontrol tarif logistik harus menjadi prioritas," ujarnya.

Firnando juga menyoroti potensi efek domino pada sektor distribusi barang. Ia mendorong adanya langkah konkret dari pemerintah agar biaya logistik tidak melambung yang nantinya membebani harga kebutuhan pokok di pasar.

Penguatan stok melalui operasi pasar dan intervensi jalur distribusi menjadi saran utama guna menjaga kesejahteraan masyarakat. Meskipun harga BBM nonsubsidi naik, pemerintah memastikan harga BBM subsidi tidak mengalami perubahan per 18 April 2026.