Anggota DPRD DKI Jakarta, Hardiyanto Kenneth, menyoroti maraknya populasi ikan sapu-sapu di sejumlah aliran kali Jakarta sebagai sinyal kerusakan ekosistem perairan pada Minggu (19/4/2026). Fenomena ini dinilai mencerminkan buruknya kualitas air sungai di ibu kota yang masih tercemar berat, sebagaimana dilansir dari Detikcom.
Spesies invasif bernama latin Hypostomus plecostomus ini diketahui mampu berkembang pesat dalam lingkungan ekstrem yang minim oksigen. Dominasi ikan tersebut mengancam keberadaan ikan lokal yang lebih sensitif terhadap pencemaran lingkungan.
"Banyak yang menganggap ikan sapu-sapu sebagai pahlawan kebersihan karena memakan alga dan sisa organik. Padahal, kenyataannya justru sebaliknya. Kehadiran mereka menjadi indikator kuat bahwa perairan kita sedang tidak sehat," ujar Kent dalam keterangannya, Minggu (19/4/2026).
Politisi PDI Perjuangan ini juga menjelaskan dampak lingkungan lain berupa ancaman terhadap ikan lokal seperti wader dan gabus karena telur-telurnya dimangsa. Selain itu, aktivitas ikan sapu-sapu yang menggali lubang di bantaran sungai dapat memicu erosi.
"Ikan ini juga menggali lubang di bantaran sungai untuk berkembang biak. Ini berpotensi memicu erosi hingga longsor di tepi sungai, yang pada akhirnya bisa memperparah risiko banjir di Jakarta," bebernya.
Selain masalah lingkungan, terdapat risiko kesehatan karena ikan ini bersifat bioakumulator yang menyerap logam berat berbahaya seperti merkuri, timbal, dan kadmium. Hal ini membuat konsumsi ikan sapu-sapu dari perairan tercemar sangat berbahaya bagi manusia.
"Ini penting untuk diketahui masyarakat. Jangan sampai ikan sapu-sapu dimanfaatkan tanpa kajian, karena bisa berdampak buruk bagi kesehatan," tegas Ketua IKAL (Ikatan Keluarga Alumni Lemhannas RI) PPRA Angkatan LXII itu.
Legislator Jakarta tersebut mendorong Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk melakukan perbaikan sistem sanitasi dan pengendalian limbah secara menyeluruh, bukan sekadar melakukan penangkapan massal. Penanganan diharapkan berbasis pada nilai tambah namun tetap mengutamakan keselamatan publik.
"Kita butuh solusi yang tidak hanya reaktif, tapi juga memberi nilai tambah bagi masyarakat, tanpa mengabaikan aspek keselamatan dan kesehatan," ujarnya.
Upaya pemulihan ekosistem sungai ditekankan sebagai prioritas utama jika Jakarta ingin bersaing sebagai kota global. Pengawalan kebijakan dan anggaran akan terus dilakukan demi masa depan lingkungan kota.
"Saya secara konsisten akan terus mengawal kebijakan dan anggaran yang berpihak pada pemulihan ekosistem sungai. Ini bukan hanya soal lingkungan, tapi juga bagi masa depan Kota Jakarta dan warganya," tuturnya.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta, Hasudungan A. Sidabalok, menyatakan bahwa operasi penangkapan massal menjadi strategi jangka pendek saat ini. Ikan yang tertangkap akan dikubur dalam kondisi mati guna mencegah dampak lanjutan.
"Sebagai langkah penanganan awal, kami melakukan operasi penangkapan massal. Hasil tangkapan ditangani dengan cara dikubur dalam kondisi mati untuk mencegah dampak lanjutan terhadap lingkungan," ujar Hasudungan.
Pemerintah juga mulai memanfaatkan hasil tangkapan seberat 1.000 kilogram dari Setu Babakan untuk riset budidaya maggot bersama Kementerian Kelautan dan Perikanan. Inovasi ini bertujuan mencari solusi pengelolaan limbah organik yang bernilai ekonomi.
"Ini menjadi salah satu upaya agar penanganan tidak hanya bersifat penanggulangan, tetapi juga memberikan nilai tambah melalui riset dan inovasi," jelasnya.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berencana memperkuat koordinasi lintas sektor dengan melibatkan para Wali Kota dan Dinas Lingkungan Hidup untuk pengendalian yang lebih masif. Sinergi ini diharapkan mampu mempercepat pemulihan kualitas sungai di seluruh wilayah Jakarta.
"Harapannya, langkah-langkah ini dapat mempercepat pemulihan kualitas perairan di Jakarta, sehingga ekosistem sungai kembali sehat dan memberikan manfaat bagi masyarakat," tutupnya.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·