Dua senjata baru Indonesia lawan TBC

Sedang Trending 53 menit yang lalu

Jakarta (ANTARA) - Bakteri tuberkulosis dapat bertahan hidup berbulan-bulan di ruang lembap yang minim ventilasi dan nyaris tak tersentuh cahaya matahari.

Sejumlah penelitian kesehatan lingkungan menunjukkan, bakteri penyebab TBC itu sebenarnya cepat melemah ketika terpapar sinar ultraviolet langsung selama 15 hingga 30 menit. Namun di banyak rumah sempit tanpa jendela dan sirkulasi udara memadai, kondisi sebaliknya justru terjadi. Ruangan pengap dan gelap menjadi tempat ideal bagi bakteri untuk bertahan sekaligus memperbesar risiko penularan.

Selama bertahun-tahun, penanganan TBC di Indonesia lebih banyak berfokus pada pengobatan pasien. Rumah tempat pasien tinggal jarang masuk ke dalam inti strategi penanganan. Padahal, banyak penderita yang setelah dinyatakan sembuh kemudian kembali lagi ke lingkungan yang sama tempat ia terinfeksi pertama kali, yaitu kamar pengap, padat penghuni, dan minim cahaya matahari.

Di tengah situasi itu, pemerintah mulai menjalankan pendekatan yang berbeda. Data Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI mencatat lebih dari 241.000 kasus TBC telah ditemukan hingga awal Mei 2026. Angka tersebut muncul setelah pemerintah memperluas skrining aktif melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG), pelacakan kontak erat, dan integrasi pelaporan lewat Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB). Indonesia sendiri masih berada di posisi kedua negara dengan kasus TBC tertinggi di dunia setelah India berdasarkan Global Tuberculosis Report 2025.

Di balik tingginya penemuan kasus itu, terdapat dua perubahan kebijakan yang mulai berjalan bersamaan. Yang pertama menyentuh kondisi rumah penderita. Yang kedua mengubah cara pengobatan TBC resistan obat yang selama ini dikenal panjang dan berat.

Melalui kerja sama Kementerian Kesehatan dan Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP), pemerintah menargetkan renovasi 2.000 unit rumah penderita TBC sepanjang 2026 dan memperluasnya menjadi 10.000 unit pada 2027. Program ini diarahkan kepada kelompok masyarakat berpenghasilan rendah yang masuk kategori Desil 1 sampai dengan 4 dalam Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN).

Rumah-rumah yang menjadi sasaran umumnya berada di kawasan padat penduduk dengan ventilasi minim dan pencahayaan alami yang buruk. Dalam banyak kasus, satu rumah dihuni beberapa anggota keluarga dalam ruang sempit tanpa jendela memadai. Kondisi itu membuat droplet infeksius lebih mudah bertahan di udara.

Wakil Menteri Kesehatan, Benjamin Paulus Octavianus, menyatakan penanganan TBC tidak akan selesai jika pasien yang sudah diobati kembali ke rumah yang tetap menjadi sumber penularan. Karena itu, renovasi rumah dipandang sebagai bagian dari pengendalian penyakit, bukan sekadar bantuan sosial perumahan.

Standar kesehatan lingkungan yang digunakan sebenarnya cukup sederhana. Ventilasi rumah ideal minimal setara 10 persen dari luas lantai, pencahayaan alami minimal 60 lux, dan kepadatan hunian tidak lebih dari dua orang per kamar berukuran di atas delapan meter persegi. Namun standar itu sulit ditemukan di banyak kawasan urban padat seperti Jakarta Utara, Bekasi, dan Tangerang yang selama ini memiliki beban kasus TBC tinggi.

Pendekatan ini menandai perubahan dalam kebijakan penanganan TBC nasional. Penyakit yang selama ini lebih sering dipahami sebagai urusan layanan kesehatan mulai diperlakukan sebagai persoalan lingkungan hidup dan kualitas hunian.

Baca juga: Hari TBC sedunia, Pemkot Jaksel ajak warga tidak takut periksa diri

Baca juga: Kemenkes fokus berantas penyakit menular di Papua

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.