Ekonom: Insentif padat karya jangan hambat investasi teknologi

Sedang Trending 2 jam yang lalu
Kalau terlalu fokus ke padat karya, kita bisa tertinggal dalam menarik investasi teknologi tinggi yang justru jadi mesin pertumbuhan masa depan

Jakarta (ANTARA) - Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet mendorong pemerintah agar tidak hanya berfokus pada investasi padat karya dalam reformulasi insentif fiskal, tetapi juga tetap menjaga daya tarik bagi investasi berbasis teknologi.

Menurut Yusuf, investasi teknologi penting bagi pertumbuhan jangka panjang.

“Kalau terlalu fokus ke padat karya, kita bisa tertinggal dalam menarik investasi teknologi tinggi yang justru jadi mesin pertumbuhan masa depan,” katanya saat dihubungi dari Jakarta, Jumat.

Pernyataan itu disampaikan dia merespons kebijakan pemerintah untuk menggeser prioritas insentif fiskal dari berbasis nilai investasi besar menjadi berbasis penyerapan tenaga kerja.

Yusuf menilai pergeseran insentif ke basis penyerapan tenaga kerja sudah tepat di tengah fenomena jobless growth—ketika pertumbuhan ekonomi tidak diikuti penyerapan tenaga kerja—serta terus bertambahnya angkatan kerja.

Namun, ia mengatakan kebijakan tersebut tidak cukup jika tidak diiringi strategi peningkatan produktivitas.

“Kalau hanya menggeser ke padat karya tanpa strategi peningkatan produktivitas, kita berisiko mengunci ekonomi di level rendah,” ujarnya.

Ia menilai selama ini kebijakan investasi terlalu menekankan pada nilai proyek besar, tetapi tidak sebanding dengan penciptaan lapangan kerja.

Dalam banyak kasus, lanjut dia, proyek padat modal membutuhkan investasi sangat besar untuk menciptakan satu pekerjaan, sementara sektor berbasis agro mampu menyerap tenaga kerja jauh lebih banyak dengan investasi lebih kecil.

Ia menambahkan banyak sektor padat karya saat ini juga menghadapi tekanan global, sehingga pendekatan kebijakan harus lebih selektif dan tidak sekadar mengejar jumlah tenaga kerja.

Untuk itu, ia menekankan pentingnya desain insentif yang menyentuh biaya dan risiko usaha, seperti subsidi bunga, keringanan beban tenaga kerja, serta dukungan untuk menjaga daya beli.

Namun, ia menggarisbawahi bahwa insentif nonfiskal seperti percepatan perizinan, kepastian lahan, dan infrastruktur sering kali lebih menentukan bagi investor dibandingkan insentif pajak.

Di atas itu, insentif untuk transformasi menjadi kunci, termasuk pelatihan tenaga kerja, adopsi teknologi, dan peningkatan produktivitas.

“Tanpa itu, insentif hanya jadi bantalan jangka pendek,” ujarnya.

Yusuf juga mengingatkan sejumlah risiko dari kebijakan ini, mulai dari potensi melambatnya investasi padat modal, moral hazard perusahaan yang hanya mengejar jumlah tenaga kerja, hingga beban fiskal jika insentif tidak dievaluasi secara ketat.

Baca juga: Celios: Insentif pajak padat karya sudah tepat, perlu pengawasan

Baca juga: Industri padat karya disebut masih butuh perhatian khusus

Baca juga: Pemerintah siapkan 6 miliar dolar pendanaan bersama untuk padat karya

Pewarta: Shofi Ayudiana
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.