Ekspor Baterai Litium China Melonjak 50 Persen pada Kuartal I 2026

Sedang Trending 1 minggu yang lalu

Volume pengiriman baterai litium asal China tercatat mengalami kenaikan signifikan sebesar 50 persen secara tahunan (yoy) pada kuartal I 2026 yang berakhir 31 Maret lalu. Lonjakan ini dipicu oleh meningkatnya permintaan energi alternatif global akibat konflik yang terjadi di Timur Tengah.

Data tersebut menunjukkan adanya percepatan ekspor jika dibandingkan dengan pertumbuhan sepanjang tahun 2025 yang berada di angka 26 persen. Dilansir dari Bloombergtechnoz, tren penguatan ini mempertegas posisi China sebagai pemain utama dalam rantai pasok energi hijau dunia.

Pemerintah China saat ini tengah menerapkan kebijakan penyesuaian insentif fiskal bagi para eksportir. Per 1 April 2026, tarif potongan pajak ekspor baterai telah dikurangi dari 9 persen menjadi 6 persen, dan direncanakan akan dihapus sepenuhnya pada tahun depan.

Wakil Direktur Administrasi Umum Bea Cukai China, Wang Jun, menjelaskan bahwa pertumbuhan ekspor tidak hanya terjadi pada sektor baterai. Produk teknologi ramah lingkungan lainnya seperti kendaraan listrik dan turbin angin juga mencatatkan pertumbuhan dua digit.

"Penggerak pertumbuhan baru untuk ekspor ini terus mendapatkan momentum pada kuartal pertama," kata Wang Jun, Wakil Direktur Administrasi Umum Bea Cukai China dalam sebuah pengarahan pada Selasa, 14 April 2026.

Faktor keamanan energi menjadi prioritas bagi negara-negara importir setelah terjadi gangguan pasokan bahan bakar global akibat perang di Iran pada bulan terakhir kuartal tersebut. Kondisi ini mempercepat peralihan negara-negara dunia menuju sumber energi yang lebih stabil dan mandiri.

Sejumlah perusahaan manufaktur mulai merasakan dampak positif dari pergeseran permintaan pasar global tersebut. Salah satunya adalah produsen penyimpanan energi, Ningbo Deye Technology Co., yang memproyeksikan pertumbuhan laba hingga 70 persen pada kuartal pertama ini.

Peningkatan pesanan yang diterima perusahaan tersebut dilaporkan berasal dari wilayah Eropa, Asia Tenggara, hingga Timur Tengah. Hingga saat ini, produsen baterai asal China masih mendominasi pasar internasional di tengah ketidakpastian geopolitik yang memengaruhi harga energi konvensional.