Kementerian Perdagangan melaporkan nilai ekspor Indonesia pada kuartal I 2026 mencapai 66,85 miliar dollar AS atau meningkat 0,34 persen dibandingkan periode sama tahun lalu. Capaian positif sepanjang Januari hingga Maret tersebut didorong oleh performa kuat sektor industri pengolahan nikel, timah, dan aluminium.
Sektor industri pengolahan mencatatkan pertumbuhan sebesar 3,96 persen secara tahunan dengan total nilai menembus 54,98 miliar dollar AS. Berdasarkan data yang dilansir dari Money, angka ini meningkat dari perolehan periode Januari-Maret 2025 yang tercatat sebesar 52,89 miliar dollar AS.
"Sepanjang tiga bulan pertama 2026, pertumbuhan ekspor didorong kinerja sektor industri pengolahan naik 3,96 persen (CtC) atau menjadi 54,98 miliar dollar AS dibandingkan periode Januari—Maret 2025 yang sebesar 52,89 miliar dollar AS," ujar Busan dalam keterangannya, Rabu (6/5/2026).
Menteri Perdagangan Budi Santoso, yang akrab disapa Busan, menjelaskan bahwa lonjakan pengiriman komoditas olahan tersebut terjadi akibat tingginya permintaan dari sejumlah negara mitra dagang. Kenaikan tertinggi dialami oleh nikel dan turunannya sebesar 60,60 persen, disusul timah 49,09 persen, serta aluminium 40,97 persen.
Sektor kimia juga memberikan kontribusi signifikan dengan pertumbuhan pada bahan kimia organik sebesar 21,44 persen dan bahan kimia anorganik 14,46 persen.
| Nikel dan Turunannya (HS 75) | 60,60% |
| Timah dan Turunannya (HS 80) | 49,09% |
| Aluminium dan Turunannya | 40,97% |
| Bahan Kimia Organik (HS 29) | 21,44% |
| Bahan Kimia Anorganik (HS 28) | 14,46% |
Khusus pada Maret 2026, kinerja ekspor tercatat sebesar 22,53 miliar dollar AS atau naik 1,62 persen dibanding bulan sebelumnya. Pertumbuhan bulanan ini dipacu oleh kenaikan ekspor migas sebesar 18,60 persen dan sektor nonmigas yang tumbuh tipis 0,75 persen.
Beberapa komoditas nonmigas mengalami anomali kenaikan sangat tajam pada Maret, seperti bijih logam, terak, dan abu yang meroket hingga 8.055,36 persen. Peningkatan ini didukung oleh permintaan dari Hong Kong yang naik 78,20 persen, Thailand 67,08 persen, dan Taiwan 29,38 persen.
Namun, tren positif ini tidak terjadi di semua lini karena sektor pertanian justru merosot 32,18 persen selama kuartal pertama. Penurunan terdalam dialami oleh komoditas kopi, teh, dan rempah-rempah yang anjlok hingga 40,15 persen, diikuti sektor pertambangan yang terkoreksi 11,17 persen.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·