Pemerintah diprediksi memerlukan waktu satu hingga dua tahun untuk mengembangkan tabung gas alam terkompresi (CNG) berkapasitas 3 kilogram agar aman dikonsumsi masyarakat. Estimasi ini muncul menyusul rencana uji coba selama tiga bulan yang dicanangkan pemerintah mulai Kamis, 7 Mei 2026, sebagaimana dilansir dari BloombergTechnoz.
Ekonom energi Universitas Gadjah Mada (UGM) Fahmy Radhi menilai durasi uji coba tiga bulan yang ditetapkan pemerintah terlalu singkat. Menurutnya, diperlukan waktu enam bulan hingga satu tahun untuk memastikan aspek keamanan distribusi CNG untuk skala rumah tangga.
"Kalau 3 bulan itu terlalu cepat. Ya mungkin 6 bulan sampai setahun, sampai menghasilkan CNG yang itu benar-benar aman untuk dikonsumsi khususnya untuk di rumah tangga," kata Fahmy ketika dihubungi, Kamis (7/5/2026).
Fahmy juga menyoroti kebutuhan teknologi injeksi khusus karena tekanan CNG sangat tinggi, yakni mencapai 200 hingga 250 bar. Ia khawatir infrastruktur pengisian di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG) saat ini belum selaras dengan ukuran tabung kecil.
"Masalahnya itu dibutuhkan teknologi injeksi agar bisa digunakan dalam tabung yang lebih kecil; apakah 12 kilogram atau 3 kilogram. Selama ini teknologi yang digunakan itu untuk injeksi tabung-tabung yang besar itu," ungkap Fahmy.
Senada dengan hal tersebut, ekonom energi Universitas Padjadjaran Yayan Satyakti menyebut pengembangan ini paling cepat memakan waktu satu hingga dua tahun. Ia menyarankan agar implementasi awal diprioritaskan pada kota-kota besar di Pulau Jawa demi efektivitas kebijakan.
"Saya perkirakan paling cepat tahun depan 1—2 tahun, jangan terburu-buru karena kebijakan ini sangat baik jadi harus baik, efisien, dan efektif. Mungkin yang diprioritaskan kota-kota besar di Jawa," kata Yayan ketika dihubungi, Kamis (7/5/2026).
Yayan menambahkan bahwa penggunaan CNG memiliki keunggulan harga yang lebih murah 30 persen hingga 40 persen dibandingkan LPG. Selain itu, masifikasi bahan bakar ini berpotensi memangkas subsidi negara hingga 30 persen serta menurunkan emisi karbon sekitar 25 persen.
Di sisi lain, pemerintah melalui Kementerian ESDM saat ini sedang menyiapkan tabung tipe 4 berbahan polimer dan serat komposit untuk kemasan CNG 3 kg. Direktur Jenderal Migas Kementerian ESDM Laode Sulaeman menegaskan program ini sudah memasuki tahap implementasi.
"Ini bukan di tahap kajian ya, ini sudah di tahap implementasi. Mengapa harus ada tabung ini, cuma tabung ini kan yang belum ada itu cuma tipe 4 untuk 3 kg. Itulah yang dikejar dalam waktu Pak Menteri sampaikan 3 bulan ke depan itu sudah ada tipe 4 untuk 3 kg dan dari situ nanti kita sudah mulai memproduksi dalam jumlah yang lebih masif," kata Laode dalam diskusi publik di kawasan Jakarta Selatan, Selasa (5/5/2026).
Laode memastikan bahwa masyarakat tidak perlu melakukan modifikasi atau mengganti kompor LPG yang ada saat ini untuk beralih ke CNG. Berdasarkan hasil uji di Lemigas, api yang dihasilkan diklaim tetap panas dan berwarna biru tanpa memerlukan alat konverter tambahan.
"Dan apinya lebih panas juga, apinya tetap lebih biru malah kalau saya perhatikan seperti itu. Nah, itulah yang sekarang makanya Lemigas dalam setiap tahapan-tahapan uji tabung kita lakukan, kemudian uji tekan, dan lain-lain ini memang faktor yang paling penting," tegas Laode.
Berdasarkan data Kementerian ESDM, tabung CNG tipe 4 dirancang memiliki ketahanan hingga 650 bar atau setara 9.427 psi. Proyek percontohan di kota-kota besar di Pulau Jawa ditargetkan mulai berjalan pada tahun 2026 setelah seluruh tahapan uji tekan rampung.
56 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·