JAKARTA, KOMPAS.com - Emas dinilai masih menjadi aset strategis bagi investor Indonesia di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global pada 2026.
Kenaikan inflasi, gejolak geopolitik, pelemahan mata uang, hingga ketidakpastian arah suku bunga global menjadi faktor yang mendorong emas kembali dilirik sebagai instrumen lindung nilai.
Laporan World Gold Council (WGC) bertajuk Why Gold in 2026: The Strategic Asset for Indonesia menyebutkan, lanskap investasi Indonesia saat ini sedang menghadapi berbagai tekanan secara bersamaan.
Di satu sisi, inflasi meningkat akibat lonjakan harga energi global yang dipicu konflik di Timur Tengah. Di sisi lain, Bank Indonesia (BI) juga menghadapi tantangan menjaga stabilitas rupiah di tengah penguatan dollar AS.
Dalam laporan tersebut, WGC menilai kondisi itu membuat emas kembali relevan, baik sebagai pelindung nilai kekayaan maupun instrumen diversifikasi portofolio investasi.
"Emas tetap menjadi aset yang menarik bagi investor Indonesia," ungkap WGC dalam laporannya, dikutip pada Minggu (17/5/2026).
WGC menjelaskan, emas selama ini memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan aset keuangan lainnya. Selain dianggap mampu menjaga nilai dalam jangka panjang, emas juga cenderung bertahan saat pasar keuangan mengalami tekanan.
Emas kembali dilirik di tengah ketidakpastian
Menurut WGC, salah satu faktor yang membuat emas kembali mendapat perhatian ialah meningkatnya kekhawatiran terhadap inflasi dan ketidakpastian ekonomi global.
Ketika tekanan ekonomi meningkat, investor umumnya mencari aset yang dianggap lebih aman.
Ilustrasi emas, emas batangan, logam mulia. Pemerintah menetapkan pembelian emas oleh bullion bank dikenakan Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 22 sebesar 0,25 persen mulai 1 Agustus 2025.
Menurut WGC, harga emas dunia sempat mengalami kenaikan signifikan dalam beberapa tahun terakhir seiring meningkatnya permintaan safe haven.
Kondisi tersebut juga tercermin pada tingginya permintaan emas fisik di sejumlah negara Asia, termasuk Indonesia.
Data WGC dalam laporan Gold Demand Trends: Q1 2026 menunjukkan, permintaan emas global pada kuartal I 2026 mencapai 1.231 ton atau naik 2 persen secara tahunan.
Kenaikan tersebut terjadi di tengah lonjakan nilai permintaan emas global hingga mencapai rekor 193 miliar dollar AS.
Khusus untuk investasi emas batangan dan koin, permintaannya mencapai 474 ton atau meningkat 42 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Investor Asia disebut menjadi pendorong utama kenaikan permintaan tersebut.
WGC juga mencatat permintaan emas di Indonesia mengalami peningkatan signifikan pada awal tahun ini.
Dalam laporan kuartalan tersebut, WGC menyebut permintaan emas batangan dan koin di Indonesia pada kuartal I 2026 meningkat dua kali lipat dibandingkan kuartal sebelumnya.
“Status emas sebagai aset safe-haven telah menarik investor yang dibebani kekhawatiran atas ketidakpastian ekonomi dan masalah inflasi,” tulis WGC dalam laporannya.
Menurut WGC, investor Indonesia semakin melihat emas sebagai instrumen perlindungan kekayaan di tengah ketidakpastian pasar. Tren tersebut juga diperkuat oleh meningkatnya minat masyarakat terhadap investasi emas dalam beberapa tahun terakhir.
Dalam laporan bertajuk Indonesia Consumer Insights Report: Gold for the Nation, WGC menyebut emas telah menjadi salah satu instrumen investasi paling populer di Indonesia.
Ilustrasi emas batangan, harga emas hari ini.
Laporan tersebut menyoroti bagaimana masyarakat Indonesia memanfaatkan emas untuk menjaga stabilitas keuangan dan melindungi nilai aset keluarga.
WGC menyebut, investor Indonesia umumnya memandang emas sebagai instrumen yang mudah dipahami.
Pengalaman krisis Asia masih membekas
Selain itu, pengalaman historis juga menjadi faktor penting yang memperkuat persepsi masyarakat terhadap emas.
Dalam laporannya, WGC mencontohkan bagaimana emas berperan sebagai lindung nilai ketika Indonesia menghadapi krisis ekonomi Asia 1997-1998.
“Emas telah menjadi lindung nilai yang efektif terhadap depresiasi mata uang,” tulis WGC.
WGC mencatat, pada periode krisis Asia 1997 hingga Januari 1998, nilai tukar rupiah melemah hingga sekitar 80 persen. Dalam situasi tersebut, emas disebut menjadi salah satu aset yang mampu mempertahankan nilai kekayaan investor domestik.
“Emas adalah kelas aset kunci ketika semua yang lain gagal,” terang WGC.
Menurut lembaga itu, pengalaman krisis tersebut masih membentuk perilaku investor Indonesia hingga saat ini.
Ketika terjadi tekanan terhadap nilai tukar rupiah maupun ketidakpastian ekonomi global, permintaan terhadap emas cenderung meningkat.
Emas dinilai efektif untuk diversifikasi portofolio
Laporan itu juga menyoroti peran emas sebagai instrumen diversifikasi portofolio. WGC menilai emas memiliki korelasi yang relatif rendah terhadap aset keuangan lain seperti saham dan obligasi.
Ilustrasi emas. Penyebab harga emas naik-turun. Proyeksi harga emas.
Karena itu, keberadaan emas dalam portofolio dinilai dapat membantu mengurangi volatilitas investasi.
WGC menyebut emas memiliki fungsi strategis sebagai investasi jangka panjang sekaligus aset diversifikasi.
WGC menyatakan, kombinasi antara kemampuan menjaga nilai, likuiditas tinggi, dan performa saat krisis membuat emas tetap relevan di tengah perubahan lanskap ekonomi global.
Bank sentral dunia terus borong emas
Selain investor ritel, permintaan emas juga terus datang dari bank sentral berbagai negara. WGC menyebut, pembelian emas oleh bank sentral dunia masih berada pada level tinggi sepanjang awal 2026.
WGC mencatat Indonesia juga termasuk negara yang menambah cadangan emas pada awal tahun ini. Dalam laporan tersebut disebutkan, BI membeli sekitar 2 ton emas pada Januari 2026.
Data Trading Economics yang mengutip World Gold Council menunjukkan cadangan emas Indonesia meningkat menjadi 87,04 ton pada kuartal I 2026, dari sebelumnya 85,53 ton pada kuartal IV 2025.
Menurut WGC, tren peningkatan pembelian emas oleh bank sentral menunjukkan bahwa emas masih dipandang sebagai aset strategis dalam sistem keuangan global.
Dalam beberapa tahun terakhir, pembelian emas oleh bank sentral dunia memang terus meningkat. Kondisi itu dipengaruhi meningkatnya ketidakpastian geopolitik, risiko inflasi, serta upaya diversifikasi dari dominasi dollar AS.
Laporan WGC menyebut emas memiliki keunggulan karena tidak terkait langsung dengan risiko kredit suatu negara maupun institusi tertentu. Karena itu, emas dianggap mampu memberikan perlindungan ketika terjadi gejolak ekonomi maupun ketegangan geopolitik.
Di tingkat global, kenaikan harga emas juga didorong meningkatnya permintaan safe haven akibat ketidakpastian perdagangan internasional dan konflik geopolitik.
WGC menyebut arus investasi ke produk berbasis emas meningkat tajam pada awal tahun ini.
Laporan tersebut menyebut, kombinasi ketidakpastian geopolitik, ekspektasi penurunan suku bunga, dan pembelian bank sentral menjadi faktor utama yang menopang harga emas dunia.
WGC juga menilai perubahan arah kebijakan global membuat emas semakin penting dalam strategi investasi jangka panjang. Ketika volatilitas pasar meningkat, investor cenderung mencari aset yang memiliki stabilitas relatif lebih baik.
Bagi Indonesia, WGC menilai emas memiliki relevansi tersendiri karena karakteristik ekonomi domestik yang sensitif terhadap pergerakan harga energi global dan nilai tukar rupiah.
WGC menyebut tekanan terhadap rupiah dan kenaikan inflasi dapat meningkatkan minat masyarakat terhadap emas sebagai instrumen penyimpan nilai.
Selain itu, pertumbuhan kelas menengah dan meningkatnya akses terhadap produk investasi emas digital juga dinilai memperluas basis investor emas di Indonesia.
WGC melihat perkembangan teknologi keuangan turut mendorong perubahan pola investasi masyarakat. Akses pembelian emas kini dinilai semakin mudah karena tersedia melalui platform digital dan layanan perbankan.
Meski demikian, WGC juga mencatat tingginya harga emas dunia dapat memengaruhi permintaan perhiasan. Dalam laporannya, WGC menyebut permintaan perhiasan emas global turun menjadi 299,7 ton atau level terendah sejak masa pandemi Covid-19.
Sementara itu, Indonesia juga disebut memiliki potensi besar dalam industri emas global.
Reuters sebelumnya melaporkan pemerintah Indonesia berencana menerapkan pajak ekspor emas mulai 2026 untuk mendorong hilirisasi dan menjaga pasokan emas di dalam negeri.
Kebijakan tersebut dirancang agar emas lebih banyak diproses dan beredar di pasar domestik. Pemerintah juga ingin memastikan masyarakat Indonesia memiliki akses lebih besar terhadap produk emas investasi.
Indonesia sendiri merupakan salah satu negara dengan cadangan emas terbesar di dunia.
WGC menilai posisi tersebut dapat menjadi faktor pendukung bagi pengembangan pasar emas nasional dalam jangka panjang.
Di tengah berbagai ketidakpastian global, laporan WGC menyebut emas masih memiliki peran penting dalam strategi pengelolaan kekayaan dan diversifikasi investasi.
“Emas tetap merupakan investasi strategis jangka panjang,” tulis WGC.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·