Menteri Keuangan G&7 Bahas Ketimpangan Pertumbuhan Ekonomi Global

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Para menteri keuangan Kelompok Tujuh (G-7) berkumpul di Paris pada Senin untuk membahas fondasi pertumbuhan dunia yang timpang dan ketidakseimbangan struktural ekonomi global.

Pertemuan ini digelar setelah pertemuan tingkat tinggi antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping berakhir pada Jumat lalu, seperti dilansir dari Bloombergtechnoz.

Prancis selaku presidensi G-7 memprioritaskan pembahasan ketimpangan ekonomi seperti defisit anggaran besar AS, minimnya investasi Eropa, serta surplus perdagangan masif dan lemahnya permintaan domestik China.

Kegagalan menangani masalah mendalam ini diperingatkan dapat memperbesar ketegangan, di tengah situasi perang, gangguan energi, ketegangan perdagangan, serta aksi jual obligasi global.

Analis dari Atlantic Council di Washington memberikan pandangannya mengenai fungsi dan ekspektasi dari pelaksanaan forum G-7 tersebut dalam memetakan strategi kolaboratif.

"Diagnosis di G-7 dapat membantu memulai strategi kolaboratif," kata Charles Lichfield, analis di Atlantic Council, Washington.

Lichfield menilai opsi solusi dari forum ini akan tetap berguna bagi negara-negara yang terlibat meskipun respons dari pihak lain seperti China belum tentu langsung menyepakatinya.

"Saya rasa tak ada yang berharap pernyataan G-7 yang pada dasarnya mengatakan ‘kami membenci ketimpangan global’ akan langsung disambut gembira oleh China dan semua pihak sepakat atas serangkaian solusi. Namun, memiliki opsi solusi tetap berguna," kata Charles Lichfield, analis di Atlantic Council, Washington.

Kekhawatiran fiskal juga menjadi perhatian besar setelah imbal hasil obligasi Treasury AS tenor dua tahun mencapai level tertinggi sejak Maret 2025, sementara rasio utang AS melampaui 100% dari PDB.

Mantan pejabat IMF memberikan analisis terkait potensi penanganan masalah utang dan ekspansi fiskal yang saat ini sedang dihadapi oleh pemerintah Amerika Serikat.

"Pelebaran terbaru dalam neraca transaksi berjalan global menimbulkan risiko bagi negara defisit maupun surplus dalam bentuk pertumbuhan produktivitas yang lebih rendah, perang dagang, volatilitas pasar, dan krisis keuangan," tulis para ekonom, termasuk mantan pejabat IMF Gita Gopinath, pada Maret lalu.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent diperkirakan akan menyampaikan bahwa pertumbuhan ekonomi merupakan cara terbaik dalam mengendalikan utang negara.

Seorang penasihat senior memberikan komentar mengenai peluang realisasi tindakan nyata dari Amerika Serikat untuk mengatasi persoalan fiskal tersebut.

"Anda harus sangat optimistis untuk berpikir bahwa Amerika akan benar-benar melakukan sesuatu guna mengatasi masalah ini," kata Erik Nielsen, penasihat senior di Independent Economics dan mantan pejabat IMF.

Dialog ini tetap dinilai positif karena menjadi ruang bagi negara-negara terkait untuk membicarakan ketimpangan ekonomi tersebut secara terbuka.

"Tetap saja, hal yang baik mereka membicarakannya," kata Erik Nielsen, penasihat senior di Independent Economics dan mantan pejabat IMF.

Prancis turut mengundang India, Brasil, Korea Selatan, dan Kenya dalam diskusi hari Selasa untuk menyusun komunike terpisah dan menyepakati mekanisme pemantauan ketimpangan global jangka panjang.