Emiten LQ45 dan BUMN20 Perkuat Fondasi IHSG pada Mei 2026

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Kinerja keuangan emiten yang tergabung dalam indeks LQ45 dan IDX BUMN20 pada kuartal pertama 2026 memberikan sinyal positif bagi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sempat mengalami volatilitas tajam akibat ketidakpastian ekonomi global.

Data Bursa Efek Indonesia hingga 4 Mei 2026 menunjukkan bahwa indeks IDX BUMN20 memiliki daya tahan lebih kuat dengan koreksi sebesar 8,81 persen secara year to date, jauh lebih rendah dibandingkan pelemahan IHSG yang mencapai 19,37 persen.

Ketangguhan ini didukung oleh pertumbuhan laba bersih pada 13 dari 18 emiten BUMN, di mana sektor perbankan dan energi menjadi penopang utama pertumbuhan tersebut sebagaimana dilansir dari babelinsight.id.

PT Bukit Asam Tbk (PTBA) mencatatkan lonjakan laba bersih hingga 104,81 persen menjadi Rp801,79 miliar, sementara Aneka Tambang membukukan laba sebesar Rp3,40 triliun pada periode yang sama.

Sektor perbankan pelat merah turut mencatatkan hasil impresif melalui Bank Rakyat Indonesia (BBRI) dengan laba Rp15,49 triliun dan Bank Mandiri yang meraup laba bersih mencapai Rp15,38 triliun.

Head of Research KISI Sekuritas, Muhammad Wafi, menilai capaian ini sebagai indikasi positif pasar meski investor disarankan tetap waspada menunggu konfirmasi kinerja pada kuartal berikutnya.

"Perlu konfirmasi lanjutan di kuartal dua dan tiga apakah pertumbuhan ini berkelanjutan atau hanya low-base effect. Apalagi beberapa sektor seperti semen dan konstruksi masih tertekan," ujar Muhammad Wafi.

Wafi menambahkan bahwa saat ini valuasi saham perbankan besar masih dalam kategori wajar hingga murah sehingga investor dapat memprioritaskan emiten dengan visibilitas laba yang kuat.

"Prioritaskan emiten yang punya visibilitas laba kuat, balance sheet sehat dan katalis jelas. Secara praktis, overweight di perbankan besar dan komoditas yang arus kas kuat, sambil selektif di sektor lain," kata Muhammad Wafi.

Peningkatan laba ini selaras dengan transformasi tata kelola melalui Danantara Indonesia yang menargetkan total laba BUMN mencapai Rp350 triliun pada tahun 2026 melalui langkah efisiensi massal.

Associate Director BUMN Research Group LM FEB UI, Toto Pranoto, menyoroti bahwa dominasi laba masih terpusat pada kelompok tertentu dan akan terus dipantau perkembangannya.

"Situasi pareto belum menunjukkan perubahan signifikan," ujar Toto Pranoto.

Mengenai kebijakan pembagian keuntungan kepada negara, mekanisme fleksibilitas akan diterapkan berdasarkan kebutuhan investasi dari masing-masing perusahaan induk atau holding.

"Sekarang kami lihat saja berapa kebutuhan dari dua holding tersebut. Kebutuhannya belum terlihat karena RKAP lagi disusun. Selesai RKAP nanti baru kelihatan kebutuhannya," tutur Toto Pranoto.

Di sisi lain, investor.id melaporkan bahwa laporan keuangan emiten berkapitalisasi besar ini menunjukkan fondasi pasar yang sebenarnya lebih kuat di tengah gempuran sentimen negatif dari gejolak pasar global.