Pertamina Sebut Harga Keekonomian Pertamax Berpotensi Tembus Rp 17.000

Sedang Trending 2 jam yang lalu

PT Pertamina Patra Niaga mengungkapkan adanya pelebaran selisih yang signifikan antara harga jual eceran dengan harga keekonomian BBM nonsubsidi jenis Pertamax akibat tekanan geopolitik global dan pelemahan nilai tukar rupiah pada Minggu (10/5/2026).

Estimasi harga keekonomian Pertamax diprediksi dapat melampaui angka Rp 17.000 per liter seiring dengan kondisi pasar saat ini yang fluktuatif, sebagaimana dilansir dari Money. Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, memberikan gambaran melalui perbandingan harga produk di kelas atasnya.

"Bisa bahkan bisa lebih (dari Rp 17.000), mengacu harga pasar dan berkaca pada analogi pada saat harga Pertamax Rp 12.300, harga Pertamax Turbo Rp 13.100, nah sekarang harga Turbo Rp 19.900 di Jakarta," kata Roberth, Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga.

Kenaikan beban ini tidak hanya terjadi pada BBM nonsubsidi, tetapi juga berdampak pada beban subsidi Pertalite yang dijual seharga Rp 10.000 per liter. Saat ini, harga keekonomian sesungguhnya untuk Pertalite telah mencapai angka Rp 16.088 per liter.

"Untuk Pertalite akan mengikuti perkembangan harga ya, karena dengan adanya kondisi geopolitik angka subsidi ini terus bergerak mengikuti iklim geopolitik. Sementara untuk Pertamax sementara ditanggung Pertamina dan diganti oleh pemerintah melalui Menteri Keuangan," kata Roberth, Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga.

Pihak operasional menegaskan bahwa penetapan harga tetap berada di bawah kendali kebijakan pusat. Pertamina berkomitmen untuk mematuhi setiap instruksi yang diberikan oleh pemerintah terkait regulasi harga di tingkat konsumen.

"Sampai kapan-nya (harga Pertalite dan Pertamax ditahan) adalah saat ini Pertamina sebagai Badan Usaha Pemerintah dan sebagai Operator akan mengikuti dan patuh pada arahan Pemerintah tentunya. Kebijakan tersebut mengikuti arahan Pemerintah ke Pertamina," kata Roberth, Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga.

Senada dengan hal tersebut, Pengamat Ekonomi Energi Universitas Padjadjaran, Yayan Satyakti, menyampaikan hasil hitungan mandirinya pada Jumat (8/5/2026). Ia menilai terdapat selisih yang cukup lebar dalam struktur harga BBM saat ini.

"Perhitungan ini berdasarkan formula yang digunakan oleh Kepmen ESDM saat ini. Di mana harga BBM ditentukan oleh harga MOPS, nilai tukar, dan bobot alpha-nya yang ada di Kepmen ESDM tersebut," kata Yayan Satyakti, Pengamat Ekonomi Energi Universitas Padjadjaran.

Berdasarkan data April 2026, Yayan memproyeksikan harga batas atas untuk Pertalite berada di kisaran Rp 16.968 per liter. Sementara itu, untuk jenis Pertamax, harga keekonomian yang ideal diperkirakan menyentuh level Rp 17.080 per liter.