Emiten Peringkat AAA Dominasi Penerbitan Surat Utang Kuartal I 2026

Sedang Trending 6 hari yang lalu

PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) melaporkan bahwa emiten dengan peringkat tertinggi atau AAA mendominasi penggalangan dana melalui surat utang dengan nilai Rp 39,3 triliun pada kuartal pertama yang berakhir Selasa (15/4/2026).

Total realisasi penerbitan surat utang korporasi secara nasional menyentuh angka Rp 59,35 triliun selama periode tersebut. Dilansir dari Money, jumlah ini melampaui nilai surat utang jatuh tempo yang tercatat sebesar Rp 26,88 triliun.

"Peringkat AAA masih mendominasi, diikuti single A yang cukup diminati karena menawarkan imbal hasil lebih tinggi dengan risiko yang masih terukur," kata Kepala Divisi Riset Pefindo, Suhindarto secara virtual, Selasa (15/4/2026).

Kebutuhan modal kerja menjadi tujuan utama penggunaan dana hasil penerbitan dengan total nilai mencapai Rp 30,91 triliun. Angka ini menunjukkan peningkatan dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Selain modal kerja, korporasi juga mengalokasikan dana untuk keperluan investasi dan pembayaran kembali utang atau refinancing. Namun, porsi penggunaan dana untuk refinancing terpantau mengalami penurunan.

Sektor industri pembiayaan atau multifinance muncul sebagai kontributor paling aktif dalam penerbitan instrumen ini. Penyerapan dana pada sektor tersebut mayoritas digunakan untuk mendukung pembiayaan konsumtif seperti sektor otomotif.

Data sektoral menunjukkan industri kehutanan, pulp, dan kertas mencatatkan penerbitan sebesar Rp 8,2 triliun. Posisi tersebut diikuti oleh sektor perbankan senilai Rp 7,7 triliun dan industri multifinance sebesar Rp 7,3 triliun.

Sementara itu, emiten Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tercatat berkontribusi sebesar Rp 20 triliun dari total penerbitan sepanjang kuartal pertama tahun ini. Angka penerbitan di luar sektor utama tersebut rata-rata masih berada di bawah Rp 5 triliun.

Peningkatan aktivitas di pasar surat utang ini dipicu oleh kondisi suku bunga yang tetap kondusif, terutama pada dua bulan pertama tahun 2026. Hal tersebut membuat biaya dana di pasar obligasi menjadi lebih kompetitif dibandingkan pinjaman perbankan.