Empat Guru Besar Unhas paparkan gagasan strategis masa depan

Sedang Trending 2 jam yang lalu

Makassar (ANTARA) - Empat Guru Besar Universitas Hasanuddin (Unhas) memaparkan gagasan strategis bagi masa depan pada acara pengukuhan di kampus Tamalanrea, Makassar, Senin.

Prof Dr Samsu Arif, Guru Besar Bidang Pemodelan Geospasial, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) Unhas menguraikan pidato berjudul “Dari Filsafat Ruang ke Geo-AI: Evolusi Pemikiran Spasial dalam Pembangunan Berkelanjutan”.

Prof Samsu menjelaskan pembangunan berkelanjutan tidak dapat dilepaskan dari dimensi ruang. Kebijakan tanpa basis spasial cenderung abai terhadap ekspresi geo-kultural dan distribusi yang berkeadilan. Maka, Geographic Information System (GIS) adalah alat keadilan, dan model spasial adalah juru bicara kebenaran data.

Baca juga: Rektor Unhas: Saatnya perluas kontribusi hingga global

Di tangan ilmuwan, kata dia, GIS tidak sekedar memvisualisasi, tetapi membangun narasi spasial yang kritis dan prognostic, menghadirkan kemungkinan alternatif dalam perencanaan dan pengambilan keputusan.

Berikutnya, Prof Dr A. Masniawati, Guru Besar Bidang Bioteknologi Tumbuhan Fakultas MIPA, menjelaskan padi lokal merupakan plasma nutfah yang potensial sebagai sumber gen pengendali sifat penting pada tanaman padi.

Keragaman genetik yang tinggi pada padi lokal dapat dimanfaatkan dalam program pemuliaan padi. Untuk mengurangi risiko kehilangan sumber daya genetik pada aroma lokal. Prof Masniawati menyebutkan perlunya dilakukan inventarisasi.

Pengembangan padi aromatik di Indonesia telah berorientasi pasar, awalnya hanya pada skala pemuliaan uji coba. Potensi padi lokal aromatik penting sebagai bagian dari kekayaan budaya dan warisan agrikultur masyarakat, setiap varietas memiliki cerita dan sejarah lokal.

Umumnya, kata dia, padi aromatik dimasukkan ke dalam golongan padi khusus sesuai indikasi geografis, karena karakteristik kualitas dan aromanya tergantung wilayah.

"Dalam sistem biologis yang utuh, tanaman termasuk padi selalu berinteraksi dengan lingkungannya, terutama dengan mikroorganisme yang hidup di sekitarnya,” katanya.

Keunggulan padi lokal tidak hanya terletak pada genetik tanamannya, tetapi juga pada jejaring biologis yang menopangnya. Tanah, mikroorganisme, dan tanaman membentuk satu kesatuan sistem yang bekerja secara dinamis.

Ketika sistem ini dipahami dan dikelola dengan pendekatan bioteknologi yang tepat, plasma nutfah lokal dapat dioptimalkan tanpa harus mengorbankan keberlanjutan lingkungan.

“Dari kebutuhan inilah, muncul gagasan tentang biofactory, yang saya maknai sebagai pendekatan biokonversi terpadu yang mengintegrasikan plasma nutfah padi lokal, mikroorganisme fungsional, dan proses fisiologi tanaman dalam satu sistem biologis," katanya.

Dengan pendekatan ini, katanya, pangan tidak lagi dimaknai sebagai hasil akhir, tetapi proses panjang yang melibatkan biokonversi biologis.

Dalam perspektif biofactory, kearifan lokal tidak diposisikan sebagai pengetahuan yang berseberangan dengan sains, melainkan sebagai bagian dari sistem biologis yang perlu dibaca dan dipahami secara ilmiah.

Baca juga: Guru Besar Unhas acungi jempol Gubernur tak perpanjang kontrak Vale

Kemudian, Prof Dr drg Marhamah, Guru Besar Bidang Kedokteran Gigi Anak, Fakultas Kedokteran Gigi memaparkan pidato berjudul: “Kelainan pada Rongga Mulut Anak yang Berhubungan dengan Penyakit Sistematik”.

Pewarta: Abdul Kadir
Editor: Endang Sukarelawati
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.