Empat Karakter Muslim Beruntung Menurut Hadits dalam Khutbah Jumat

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Ketakwaan merupakan bekal paling utama bagi setiap muslim untuk mendapatkan kebahagiaan yang kekal di akhirat kelak. Peningkatan ketakwaan dilakukan dengan disiplin menjalankan seluruh kewajiban serta menjauhi segala bentuk larangan Allah SWT.

Dilansir dari Cahaya, terdapat empat karakter mulia yang jika dimiliki seorang muslim, akan memberikan jaminan keamanan dari siksa kubur dan petunjuk di akhirat. Hal ini merujuk pada hadits riwayat ath-Thabarani yang dinilai hasan oleh al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

"مَنْ أُعْطِيَ فَشَكَرَ، وَابْتُلِيَ فَصَبَرَ، وَظَلَمَ فَاسْتَغْفَرَ، وَظُلِمَ فَغَفَرَ، ثُمَّ سَكَتَ، فَقَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ، مَا لَهُ؟ قَالَ: أُولئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُوْنَ"

Artinya: "Barang siapa yang diberi lalu bersyukur, diuji lalu bersabar, menzalimi lalu meminta maaf dan dizalimi lalu memaafkan," kemudian Nabi terdiam. Para sahabat bertanya: Wahai Rasulullah, ada apa dengannya (apa yang ia peroleh)? Nabi menjawab: "Mereka adalah orang-orang yang memperoleh keamanan (dari siksa kubur dan akhirat) dan mendapatkan petunjuk."

Syukur terbagi menjadi dua kategori utama, yakni syukur wajib dan syukur sunnah. Syukur wajib diwujudkan dengan tidak menggunakan nikmat Allah untuk kemaksiatan, melainkan menjadikannya sarana ketaatan.

Kesehatan dan waktu luang menjadi dua nikmat yang paling sering diabaikan oleh banyak orang. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memberikan peringatan dalam hadits riwayat al-Bukhari mengenai fenomena manusia yang tertipu oleh kedua hal tersebut.

Baginda Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:

"نِعْمَتَانِ مَغْبُوْنٌ فِيْهِمَا كَثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ"

Artinya: "Dua kenikmatan yang kebanyakan manusia tertipu dengannya, yaitu kesehatan dan waktu luang."

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan bahwa orang yang menggunakan waktu dan sehatnya untuk taat disebut sebagai maghbuuth atau orang yang patut dicontoh. Sebaliknya, mereka yang menyalahgunakannya untuk maksiat disebut maghbuun atau orang yang tertipu.

Imam Syafii juga memberikan penegasan mengenai pentingnya aktivitas positif bagi jiwa manusia. Beliau memberikan nasihat sebagai berikut:

"إِذَا لَمْ تَشْغَلْ نَفْسَكَ بِالْحَقِّ شَغَلَتْكَ بِالْبَاطِلِ"

Artinya: "Jika engkau tidak menyibukkan dirimu dengan kebenaran, maka ia akan menyibukkanmu dengan kebatilan."

Sementara itu, syukur sunnah dipraktikkan dengan ucapan alhamdulillah atau melalui sujud syukur saat mendapatkan nikmat spontan. Sujud syukur memerlukan syarat suci dari hadats, menutup aurat, serta menghadap ke arah kiblat.

Sabar dalam Menghadapi Ujian

Sifat kedua adalah sabar saat tertimpa musibah, yang merupakan bagian dari tiga jenis sabar dalam Islam. Dua jenis lainnya meliputi sabar dalam menjalankan kewajiban agama dan sabar dalam menjauhi segala hal yang diharamkan.

Esensi sabar dalam musibah adalah memastikan ujian tersebut tidak mendorong seseorang untuk melakukan tindakan maksiat. Bagi muslim yang taat, musibah berfungsi sebagai pengangkat derajat di akhirat melalui proses ujian yang dilewati.

Bagi muslim yang sering bermaksiat, musibah menjadi bentuk pembersihan dosa atau siksaan yang disegerakan di dunia agar meringankan beban di akhirat. Syarat agar musibah bernilai kebaikan adalah adanya rasa sabar, ridha, dan tetap dalam keimanan.

Pentingnya Meminta Maaf dan Memaafkan

Karakter ketiga dan keempat berkaitan dengan hubungan antarmanusia, yaitu meminta maaf saat berbuat zalim dan memaafkan saat dizalimi. Tindakan zalim mencakup perbuatan mencaci, memfitnah, atau mengambil hak orang lain secara ilegal.

Seseorang yang mampu memberi kepada yang kikir, memaafkan yang menzalimi, dan menyambung silaturahmi yang putus akan mendapatkan hisab yang ringan. Hal ini dijelaskan dalam hadits riwayat ath-Thabarani sebagai jalan menuju surga melalui rahmat-Nya.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam juga mengingatkan pentingnya menyelesaikan urusan kezaliman di dunia sebelum hari kiamat tiba. Jika tidak diselesaikan sekarang, amal shalih pelaku zalim akan diambil, atau dosa korban akan dibebankan kepada pelaku di akhirat kelak.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

"مَنْ كَانَتْ لَهُ مَظْلِمَةٌ لِأَخِيْهِ مِنْ عِرْضِهِ أَوْ مِنْ شَيْءٍ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ الْيَوْمَ قَبْلَ أَنْ لَا يَكُوْنَ دِيْنَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ إِنْ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْهُ بِقَدْرِ مَظْلِمَتِهِ وَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ فَحُمِلَ عَلَيْهِ"

Artinya: "Barang siapa yang pernah berbuat zalim kepada saudaranya baik berkaitan dengan kehormatan dirinya atau yang lain, maka hendaklah ia meminta kehalalan darinya di dunia ini sebelum datang kehidupan akhirat. Jika ia memiliki amal shalih maka diambil darinya sesuai kadar kezalimannya, dan jika ia tidak memiliki kebaikan maka diambil keburukan teman yang ia zalimi lalu dibebankan kepadanya."