Empat Puluh Negara Bahas Pengawalan Kapal di Selat Hormuz

Sedang Trending 2 jam yang lalu

Sebanyak lebih dari 40 negara dijadwalkan berkumpul pada Senin, 11 Mei 2026, guna merancang kontribusi militer untuk misi pengawalan kapal komersial di Selat Hormuz setelah gencatan senjata tercapai. Dilansir dari Bloombergtechnoz, pertemuan ini bertujuan mengamankan jalur perairan vital dari gangguan keamanan maritim.

Koalisi yang dipimpin oleh Inggris dan Prancis tersebut mengharapkan adanya tawaran kemampuan teknis dari negara-negara peserta, mulai dari patroli udara hingga pembersihan ranjau. Langkah ini diambil untuk memberikan jaminan keamanan bagi pelayaran komersial yang melintasi kawasan tersebut.

Menteri Pertahanan Inggris, John Healey, akan memimpin koordinasi rencana militer praktis ini bersama Menteri Pertahanan Prancis, Catherine Vautrin. Fokus utama mereka adalah memulihkan kepercayaan sektor pengiriman global yang terganggu akibat konflik di kawasan tersebut.

"Kami sedang mengubah kesepakatan diplomatik menjadi rencana militer praktis guna memulihkan kepercayaan pengiriman melalui Selat Hormuz," ujar Menteri Pertahanan Inggris John Healey, yang akan memimpin pertemuan tersebut bersama rekannya dari Prancis, Catherine Vautrin.

Pemerintah Iran bereaksi keras terhadap rencana mobilisasi militer asing tersebut melalui pernyataan diplomatik resminya. Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, menilai langkah tersebut sebagai bentuk eskalasi militerisasi di jalur perairan yang krusial bagi pasokan energi dunia.

"Setiap pengerahan dan penempatan kapal perusak dari luar kawasan di sekitar Selat Hormuz, dengan dalih ‘melindungi pelayaran’, tidak lain merupakan eskalasi krisis, militerisasi jalur perairan vital, dan upaya menutupi akar sebenarnya dari ketidakamanan di kawasan," tulis Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi di platform X.

Gharibabadi menambahkan bahwa kehadiran kekuatan militer luar kawasan hanya akan memperburuk situasi keamanan di sekitar Selat Hormuz. Ia pun memberikan peringatan mengenai konsekuensi langsung dari tindakan tersebut.

Ia menegaskan bahwa tanggapan Iran akan bersifat "tegas dan segera."

Berdasarkan laporan Bloombergtechnoz, Selat Hormuz telah ditutup secara efektif oleh Iran menyusul pecahnya perang akibat serangan Amerika Serikat-Israel pada 28 Februari lalu. Penutupan jalur yang melayani seperlima aliran gas alam cair dan minyak dunia ini telah memicu lonjakan harga bahan bakar global.

Sebagai bentuk kesiapan operasional, Inggris berencana mengirimkan HMS Dragon, kapal perang dengan spesialisasi penghancur rudal kendali. Namun, operasional kapal tersebut baru akan terlaksana apabila kesepakatan damai atau gencatan senjata yang berkelanjutan telah disetujui oleh pihak-pihak yang bertikai.

Misi ini juga bergulir di tengah sorotan Presiden AS Donald Trump yang sebelumnya melontarkan kritik tajam kepada sekutu NATO. Trump menyoroti lambatnya respons negara-negara Eropa dalam mengerahkan kekuatan angkatan laut untuk membantu pembukaan blokade laut di jalur strategis tersebut.