Eset Luncurkan Modul Cloud Workload Protection untuk Keamanan Siber Indonesia

Sedang Trending 5 hari yang lalu

Eset sebagai perusahaan keamanan siber global secara resmi memperkenalkan modul keamanan teranyar, Eset Cloud Workload Protection, bagi pasar Indonesia. Dilansir dari Detik iNET, fitur perlindungan mutakhir ini telah terintegrasi dalam platform Eset Protect tanpa biaya tambahan bagi para pelanggan.

Langkah ini diambil untuk merespons masifnya tren migrasi ke infrastruktur cloud oleh berbagai organisasi di tanah air. Berdasarkan data dari Mordor Intelligence, nilai pasar cloud di Indonesia diprediksi menyentuh angka USD 2,81 miliar pada tahun 2026 dan akan terus meroket hingga USD 5,5 miliar pada 2031.

Kendati adopsi cloud meningkat tajam, sistem keamanan yang memadai sering kali terabaikan. Laporan IBM menunjukkan kerugian akibat pelanggaran data di public cloud mencapai rata-rata USD 5,17 juta atau sekitar Rp 84 miliar per insiden, angka tertinggi dibandingkan infrastruktur IT lainnya.

"Semakin banyak organisasi di Indonesia sekarang yang menganggap bahwa public cloud itu sebagai urat nadi inisiatif bisnis digital mereka," ujar Yudhi Kukuh, CTO Prosperita Group.

"Dengan Eset Cloud Workload Protection, kami mengurangi permukaan serangan yang dihadapi pengguna dengan memperluas proteksi ke cloud workload mereka di public cloud serta private cloud dan virtual machine di on-premise," tambah Yudhi.

Fasilitas keamanan ini dapat dinikmati oleh seluruh pengguna platform Eset Protect, kecuali untuk paket Protect Entry. Pengguna cukup melakukan integrasi akun perlindungan mereka dengan lingkungan cloud populer seperti Amazon Web Services (AWS), Microsoft Azure, atau Google Cloud Platform (GCP).

Modul ini menghadirkan fitur pemantauan terpusat yang menggabungkan seluruh endpoint dan lingkungan cloud ke dalam satu dasbor tunggal. Sistem tersebut dirancang agar admin dapat mengawasi aktivitas mencurigakan dengan lebih efisien dan terpadu.

Teknologi kecerdasan buatan (AI) menjadi motor penggerak utama dalam mendeteksi anomali serta mengenali ancaman siber berdasarkan perilaku. AI ini mampu menjalankan respons otomatis sebelum serangan peretas meluas, dengan desain modul yang ringan agar tidak mengganggu performa server perusahaan.

Kepatuhan Audit dan Regulasi Nasional

Selain berfungsi menangkal ancaman ransomware dan kesalahan konfigurasi, fitur ini memudahkan manajer IT dalam menyusun laporan bukti audit. Sistem ini mampu menyediakan bukti audit yang selaras dengan standar internasional seperti NIST, CIS, dan PCI DSS.

Pada tingkat regulasi nasional, fitur ini membantu organisasi dalam mematuhi aturan perlindungan data sensitif. Hal tersebut mencakup kepatuhan terhadap UU Pelindungan Data Pribadi (UU PDP), pedoman dari Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), serta ketentuan dalam RUU Keamanan dan Ketahanan Siber.