Jakarta (ANTARA) - FAO bersama Yayasan Bina Usaha Lingkungan (YBUL) memberikan akses pendanaan lingkungan hingga sekitar Rp1,2 miliar melalui Program Hibah Kecil Global Environment Facility (GEF SGP) bagi organisasi masyarakat sipil dan komunitas di Indonesia.
"Dalam mengatasi tantangan global saat ini, kita membutuhkan pendekatan yang memungkinkan masyarakat setempat untuk mengelola sumber daya alam secara berkelanjutan dan meningkatkan mata pencaharian mereka", kata Perwakilan FAO di Indonesia dan Timor-Leste, Rajendra Aryal menyusul penandatangan Perjanjian Kemitraan Operasional di kantor FAO Indonesia di Jakarta, Rabu.
Ia mengatakan penerima hibah juga dapat memperoleh dukungan teknis FAO guna memperkuat aksi komunitas demi mewujudkan lingkungan dan mata pencaharian yang lebih baik.
"FAO berkomitmen memberikan dukungan teknis kepada penerima hibah GEF SGP, memperkuat kapasitas masyarakat akar rumput untuk menghadirkan solusi mereka sendiri," katanya.
Ia menegaskan bahwa FAO dan YBUL siap untuk memperluas kemitraan tersebut guna menjangkau lebih banyak komunitas di seluruh kepulauan Indonesia.
FAO bergabung dengan Fase Operasional Kedelapan (GEF SGP-OP8) Program Hibah Kecil GEF dan mengimplementasikan program ini di 13 negara, termasuk Indonesia.
GEF SGP merupakan program unggulan GEF yang bertujuan mendorong aksi lingkungan berbasis komunitas dengan melibatkan masyarakat adat, pemuda, perempuan serta penyandang disabilitas.
SGP OP8 di Indonesia akan berfokus di Kabupaten Buleleng di Bali, Lombok di NTB dan Labuan Bajo, Taman Nasional Komodo, Sumba, dan Alor di NTT.
Kelima wilayah tersebut dipilih karena memiliki keanekaragaman hayati tinggi dan menghadapi tantangan lingkungan yang mendesak, namun masih minim mendapatkan pendanaan GEF SGP sebelumnya.
GEF SGP akan memprioritaskan pendanaan untuk inisiatif yang selaras dengan rencana pembangunan Indonesia dan komitmen global, serta lima prioritas tematik GEF SGP-OP8.
Adapun prioritas tersebut yakni konservasi berbasis masyarakat untuk ekosistem dan spesies yang terancam punah, pertanian dan perikanan berkelanjutan serta ketahanan pangan, manfaat tidak langsung terkait akses energi rendah karbon, koalisi lokal hingga global untuk pengelolaan bahan kimia dan limbah serta solusi perkotaan berkelanjutan.
Lebih lanjut ia mengatakan GEF SGP juga akan membekali penerima hibah dengan akses ke pengembangan pengetahuan dan keterampilan, serta bantuan teknis dan hibah yang difasilitasi oleh FAO.
Direktur Eksekutif WBUL Yani Witjaksono mengatakan pihaknya ingin melokalisasi komitmen internasional Indonesia, mulai dari FOLU Net Sink 2030 hingga Kerangka Keanekaragaman Hayati Global Kunming-Montreal, dengan memberdayakan masyarakat lokal dan adat sebagai penjaga utama keanekaragaman hayati.
Selama periode 2026-2029, GEF SGP OP8 bertujuan untuk mendukung lebih dari 14.000 penerima manfaat termasuk lebih dari 7.200 perempuan, 2.300 pemuda, dan 2.300 penyandang disabilitas.
Proyek-proyek yang didanai oleh program ini diharapkan dapat membantu memulihkan lebih dari 6.400 hektar lahan, meningkatkan praktik pengelolaan di lebih dari 110.000 hektar lanskap dan 8.000 hektar bentang laut, serta mengurangi perkiraan emisi gas rumah kaca sebesar 640.000 CO2e.
FAO dan YBUL telah menunjuk 11 anggota Komite Pengarah Nasional GEF-SGP-OP8 yang terdiri atas masyarakat sipil, pemerintah Indonesia, dan sektor swasta.
Disebutkan pula bahwa organisasi masyarakat dapat mengajukan proposal mulai Juni tahun ini.
Pewarta: Asri Mayang Sari
Editor: Aditya Eko Sigit Wicaksono
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·