Deputi Gubernur Federal Reserve (The Fed) Christopher Waller menyatakan sikap waspada terhadap rencana pemangkasan suku bunga menyusul adanya guncangan energi dari konflik di Iran pada Jumat (17/4). Kebijakan moneter Amerika Serikat kini dibayangi risiko inflasi berkepanjangan akibat gangguan komoditas global tersebut.
Sebagaimana dilansir dari Bloombergtechnoz, Waller memproyeksikan dua skenario utama terkait arah suku bunga yang sangat bergantung pada stabilitas distribusi energi di Selat Hormuz. Kelancaran arus perdagangan menjadi indikator krusial bagi bank sentral untuk menentukan apakah lonjakan harga bersifat sementara atau struktural.
"Saya melihat proyeksi di mana inflasi inti akan terus bergerak menuju target 2%. Kondisi ini membuat saya berhati-hati untuk memangkas suku bunga sekarang, dan lebih condong melakukan pemangkasan untuk mendukung pasar tenaga kerja akhir tahun ini saat prospek ekonomi sudah lebih stabil," ujar Waller, Deputi Gubernur Federal Reserve.
Kekhawatiran muncul karena pelaku pasar dianggap belum sepenuhnya mengantisipasi dampak jangka panjang dari ketegangan tersebut. Biaya input energi yang tetap tinggi berpotensi memicu kenaikan harga pada sektor-sektor ekonomi lainnya secara luas.
"Terkait inflasi, risikonya adalah semakin lama konflik berlarut-larut dan harga energi tetap tinggi, maka semakin besar kemungkinan harga-harga tinggi ini akan merembet ke sektor lain. Hal ini terjadi karena pelaku usaha mulai memasukkan biaya input energi yang mahal ke dalam penetapan harga produk mereka," jelas Waller, Deputi Gubernur Federal Reserve.
Posisi bank sentral menjadi sulit apabila inflasi terus naik di tengah melemahnya penyerapan tenaga kerja. Waller menegaskan bahwa prioritas kebijakan akan bergeser pada pengendalian harga jika tekanan inflasi terbukti lebih kuat daripada risiko resesi pasar kerja.
"Itu berarti kami mungkin mempertahankan suku bunga pada kisaran target saat ini jika risiko inflasi lebih berat dibandingkan risiko pada pasar tenaga kerja," tegas Waller, Deputi Gubernur Federal Reserve.
Meskipun Iran mengklaim Selat Hormuz telah dibuka kembali pada Jumat, blokade Amerika Serikat terhadap pengiriman minyak Iran masih tetap berlaku secara formal. Kondisi ini terjadi bersamaan dengan penurunan angka imigrasi yang berdampak pada rendahnya penciptaan lapangan kerja baru di Amerika Serikat.
"Perkembangan ini belum pernah terjadi dalam sejarah baru-baru ini. Saya yakin ini adalah faktor signifikan dalam memahami prospek ekonomi dan dampaknya terhadap kebijakan moneter," pungkas Waller, Deputi Gubernur Federal Reserve.
Pejabat Federal Reserve lainnya juga memberikan sinyal serupa untuk menjaga stabilitas suku bunga acuan. Keputusan akhir mengenai kebijakan ini dijadwalkan akan diambil dalam pertemuan rutin di Washington pada 28-29 April 2026 mendatang.
2 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·