Umat Katolik merayakan ibadah Minggu Paskah III pada 19 April 2026 yang dilaksanakan di seluruh gereja dengan fokus perenungan pada penampakan Yesus kepada para murid pasca-kebangkitan. Berdasarkan jadwal liturgi, rangkaian ibadah ini melibatkan pembacaan tiga bagian Alkitab yang menjadi bahan refleksi utama bagi jemaat yang hadir.
Sebelumnya, pada Sabtu 18 April 2026, Gereja memperingati hari biasa pekan II Paskah sekaligus pesta Santo Eleutherius, seorang Paus asal Yunani yang menjabat pada tahun 175-189. Paus Eleutherius dikenal sebagai pemimpin yang gigih melawan berbagai aliran bidaah seperti Montanisme, Gnostisisme, dan Marcionisme sebelum wafat dan dimakamkan di bukit Vatikan.
Perayaan liturgi pada hari Sabtu tersebut menggunakan warna putih sebagai simbol kesucian. Bacaan yang diangkat meliputi kisah pemilihan tujuh diaken pertama dalam Kisah Para Rasul dan mukjizat Yesus berjalan di atas air dalam Injil Yohanes.
"Kami tidak merasa puas, karena kami melalaikan Firman Allah untuk melayani meja." kata kedua belas rasul dalam bacaan Kisah Para Rasul 6:2.
Setelah usul pemilihan petugas pelayanan tersebut diterima oleh jemaat, para rasul melakukan penumpangan tangan kepada tujuh orang terpilih termasuk Stefanus. Dampak dari penataan pelayanan ini membuat firman Allah semakin tersebar luas di wilayah Yerusalem.
"Pilihlah tujuh orang dari antaramu, yang terkenal baik, dan yang penuh Roh dan hikmat, supaya kami mengangkat mereka untuk tugas itu, dan supaya kami sendiri dapat memusatkan pikiran dalam doa dan pelayanan Firman." ujar para rasul dalam Kisah Para Rasul 6:3-4.
Kisah berlanjut pada penganiayaan Stefanus yang berujung pada kematian martirnya di hadapan Mahkamah Agama. Dalam detik-detik terakhirnya, Stefanus mendapatkan penglihatan mengenai kemuliaan Allah di langit yang terbuka.
"Sungguh, aku melihat langit terbuka dan Anak Manusia berdiri di sebelah kanan Allah." ucap Stefanus dalam Kisah Para Rasul 7:56.
Massa yang marah kemudian menyeret Stefanus ke luar kota untuk dilempari batu hingga tewas. Di tengah penderitaan tersebut, ia tetap memanjatkan doa pengampunan bagi orang-orang yang menganiayanya.
"Ya Tuhan Yesus, terimalah rohku." doa Stefanus dalam Kisah Para Rasul 7:59.
Sesaat sebelum mengembuskan napas terakhir, Stefanus berseru dengan suara yang sangat nyaring. Tindakan ini disaksikan oleh seorang pria muda bernama Saulus yang saat itu menyetujui pembunuhan tersebut.
"Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka!" seru Stefanus dalam Kisah Para Rasul 7:60.
Pada sisi lain, Injil Yohanes mencatat peristiwa ketakutan para murid saat berada di tengah danau yang bergelora akibat angin kencang. Dalam situasi mencekam tersebut, Yesus hadir mendekati perahu mereka dengan cara yang tidak lazim.
"Aku ini, jangan takut!" kata Yesus dalam Injil Yohanes 6:20.
Memasuki hari Minggu Paskah III, Petrus memberikan khotbah yang berani di Yerusalem mengenai identitas Yesus dari Nazaret. Ia menegaskan bahwa kematian Yesus di kayu salib merupakan bagian dari rencana Allah yang kemudian disusul oleh kebangkitan-Nya.
"Hai kamu orang Yahudi dan kamu semua yang tinggal di Yerusalem, ketahuilah dan camkanlah perkataanku ini. Yang aku maksudkan ialah Yesus dari Nazaret, seorang yang telah ditentukan Allah dan yang dinyatakan kepadamu dengan kekuatan, mujizat dan tanda-tanda, yang dilakukan oleh Allah dengan perantaraan Dia di tengah-tengah kamu, seperti yang kamu tahu. Dia yang diserahkan Allah menurut maksud dan rencana-Nya, telah kamu salibkan dan kamu bunuh dengan tangan bangsa-bangsa durhaka. Tetapi Allah membangkitkan Dia dengan melepaskan-Nya dari sengsara maut, karena tidak mungkin Ia tetap berada dalam kuasa maut itu." tegas Petrus dalam Kisah Para Rasul 2:14,22-23.
Petrus juga mengingatkan jemaat tentang penebusan manusia yang tidak menggunakan barang fana seperti perak atau emas. Ia menekankan bahwa pengorbanan Kristus adalah harga mahal yang harus dibayar untuk membebaskan manusia dari cara hidup yang sia-sia.
"Saudara-saudara terkasih, Allah yang menghakimi semua orang menurut perbuatannya tanpa pandang muka, kamu sebut Bapa. Maka hendaklah kamu hidup dengan takwa selama kamu menumpang di dunia ini. Sebab kamu tahu bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu. Kamu telah ditebus bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat. Kristus telah dipilih sebelum dunia dijadikan, tetapi baru menyatakan diri-Nya pada zaman akhir karena kamu. Oleh Dialah kamu percaya kepada Allah, yang telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, dan yang telah memuliakan-Nya, sehingga iman dan pengharapanmu tertuju kepada Allah." tulis Petrus dalam 1 Petrus 1:17-21.
Puncak literatur liturgi Minggu ini adalah kisah perjalanan dua murid menuju desa Emaus yang sedang berduka atas kematian Yesus. Ketika mereka sedang berbincang dengan sedih, Yesus yang telah bangkit menghampiri namun mereka tidak mengenali-Nya.
"Apakah yang kamu percakapkan sementara kamu berjalan?" tanya Yesus dalam Lukas 24:17.
Kleopas, salah satu murid tersebut, merasa heran karena ada orang yang dianggapnya tidak mengetahui peristiwa besar yang baru saja terjadi di Yerusalem. Ia menceritakan harapan mereka yang pupus setelah para pemimpin agama menyalibkan Sang Guru.
"Adakah Engkau satu-satunya orang asing di Yerusalem, yang tidak tahu apa yang terjadi di situ pada hari-hari belakangan ini?" tanya Kleopas dalam Lukas 24:18.
Yesus kemudian memancing penjelasan lebih lanjut dari kedua murid tersebut mengenai sosok yang mereka bicarakan. Hal ini dilakukan sebelum Ia memberikan penjelasan mendalam mengenai nubuat para nabi dalam Kitab Suci.
"Apakah itu?" tanya Yesus dalam Lukas 24:19.
Kedua murid memaparkan peristiwa kosongnya kubur dan kesaksian para perempuan yang melihat malaikat. Namun, mereka tetap merasa bimbang karena belum melihat sosok Yesus secara langsung.
"Apa yang terjadi dengan Yesus orang Nazaret. Dia adalah seorang nabi, yang berkuasa dalam pekerjaan dan perkataan di hadapan Allah dan di depan seluruh bangsa kami. Tetapi imam-imam kepala dan pemimpin pemimpin kami telah menyerahkan Dia untuk dihukum mati dan mereka telah menyalibkan-Nya. Padahal kami dahulu mengharapkan, bahwa Dialah yang datang untuk membebaskan bangsa Israel. Tetapi sementara itu telah lewat tiga hari, sejak semuanya itu terjadi. Dan beberapa perempuan dari kalangan kami telah mengejutkan kami: Pagi-pagi buta mereka telah pergi ke kubur, dan tidak menemukan mayat-Nya. Lalu mereka datang dengan berita, bahwa telah kelihatan kepada mereka malaikat-malaikat, yang mengatakan bahwa Yesus hidup. Dan beberapa teman kami telah pergi ke kubur itu dan mendapati bahwa memang benar yang dikatakan perempuan-perempuan itu, tetapi Yesus sendiri tidak mereka lihat." urai para murid dalam Lukas 24:19-24.
Mendengar keraguan itu, Yesus menegur keras kelambanan hati mereka dalam mempercayai tulisan para nabi. Ia menjelaskan bahwa penderitaan Mesias adalah jalan wajib menuju kemuliaan-Nya.
"Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu, sehingga kamu tidak percaya segala sesuatu, yang telah dikatakan para nabi! Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya?" ujar Yesus dalam Lukas 24:25-26.
Saat hari mulai gelap, kedua murid tersebut meminta orang asing itu untuk tidak melanjutkan perjalanan. Mereka mengundang-Nya untuk menginap bersama karena matahari sudah hampir terbenam.
"Tinggallah bersama-sama dengan kami, sebab hari telah menjelang malam dan matahari hampir terbenam." desak kedua murid dalam Lukas 24:29.
Mata kedua murid baru terbuka dan mereka mengenali Yesus saat prosesi pemecahan roti di meja makan. Setelah Yesus lenyap dari pandangan, mereka menyadari perasaan emosional yang mereka alami sepanjang perjalanan.
"Bukankah hati kita berkobar-kobar, ketika Ia berbicara dengan kita di tengah jalan dan ketika Ia menerangkan Kitab Suci kepada kita?" kata mereka dalam Lukas 24:32.
Mereka segera kembali ke Yerusalem untuk menemui para rasul dan melaporkan kejadian tersebut. Di sana, mereka disambut dengan berita bahwa Yesus juga telah menampakkan diri kepada Simon.
"Sesungguhnya Tuhan telah bangkit dan telah menampakkan diri kepada Simon." kata para rasul dalam Lukas 24:34.
Ibadah Minggu Paskah III ini menjadi momentum bagi umat untuk merefleksikan kehadiran Tuhan dalam keseharian, sebagaimana yang dialami para murid di jalan menuju Emaus. Seluruh rangkaian bacaan ini bersumber dari kalender liturgi yang disusun oleh Komisi Liturgi KWI.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·