Harga Bahan Baku Plastik Melonjak 100 Persen Tekan Industri Nasional

Sedang Trending 1 minggu yang lalu

Lonjakan harga bahan baku plastik sebesar 50 hingga 100 persen per Selasa (14/4/2026) mulai menekan operasional berbagai sektor industri manufaktur hingga usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di seluruh Indonesia. Kenaikan drastis ini dipicu oleh fluktuasi harga minyak global, gangguan rantai pasokan, serta ketidakpastian kondisi geopolitik dunia.

Sebagaimana dilansir dari Money, biaya kemasan yang melambung tinggi ini berpotensi besar mendorong kenaikan harga produk di tingkat konsumen akhir. Pelaku UMKM menjadi kelompok yang paling terdampak karena keterbatasan modal dalam menyesuaikan biaya produksi yang membengkak secara tiba-tiba.

Selain beban biaya, Indonesia menghadapi tantangan volume sampah plastik yang terus meningkat pesat berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN). Timbunan sampah plastik tercatat mencapai 12 juta ton pada 2023 dan diprediksi melonjak hingga 12,4 juta ton pada 2025 mendatang.

Pertumbuhan volume sampah tersebut tercatat mencapai 20 hingga 30 persen dalam kurun waktu lima tahun terakhir. Kondisi ini diperparah dengan fakta bahwa baru sekitar 25 persen sampah yang terkelola secara optimal dari total 524 tempat pembuangan akhir (TPA) yang ada.

Di tengah tekanan harga ini, penggunaan kemasan guna ulang kembali menjadi tren sebagai solusi efisiensi bagi masyarakat dan pelaku usaha. Praktisi Komunikasi Polimedia, Andre Donas, mencatat bahwa konsumen tetap loyal pada penggunaan galon guna ulang karena faktor keamanan dan kepraktisan di tengah kenaikan harga plastik sekali pakai.

"Pemakaian galon guna ulang dinilai menjadi solusi bagi kondisi yang terjadi saat ini di saat harga plastik mengalami kenaikan yang tinggi," ujar Andre Donas, Praktisi Komunikasi dan Dosen Periklanan Politeknik Negeri Media Kreatif (Polimedia).

Penelitian dari Pusat Riset Konsumen Ganesha (PRKG) mendukung tren tersebut dengan menunjukkan tingkat kepercayaan publik yang tinggi terhadap kemasan polikarbonat. Peneliti Senior PRKG, Aan Rusdianto, mengungkapkan bahwa penggunaan galon guna ulang di wilayah Jabodetabek mencapai angka 89,36 persen dibandingkan galon sekali pakai yang hanya 5,32 persen.

Sebagai langkah mitigasi, Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta mulai mendampingi UMKM untuk beralih menggunakan material berbasis serat alam. Kepala Disperindag DIY, Yuna Pancawati, mendorong pemanfaatan bahan lokal seperti mendong, pandan, dan kelapa untuk menggantikan posisi plastik pelapis dalam proses pengemasan produk lokal.