Harga Emas Antam Turun Menjadi Rp 2.888.000 per Gram

Sedang Trending 3 hari yang lalu

Harga emas batangan Logam Mulia milik PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (ANTM) mengalami penurunan sebesar Rp 5.000 menjadi Rp 2.888.000 per gram pada perdagangan Kamis (16/4/2026). Penurunan ini terjadi di tengah fluktuasi pasar komoditas global yang memicu aksi ambil untung oleh para pelaku pasar.

Dilansir dari Bloombergtechnoz, harga pembelian kembali atau buyback oleh Antam terpantau tidak mengalami perubahan dibandingkan hari sebelumnya. Nilai buyback saat ini tertahan di level Rp 2.674.000 per gram meskipun harga jual ritel mengalami koreksi tipis.

Pelemahan nilai logam mulia domestik ini sejalan dengan kondisi pasar spot global yang menutup perdagangan kemarin pada posisi US$ 4.809,2 per troy ons. Angka tersebut menunjukkan penurunan sebesar 0,68 persen dibandingkan dengan periode perdagangan hari sebelumnya.

Koreksi harga terjadi setelah emas dunia sempat melonjak lebih dari 2 persen pada Selasa (14/4/2026) hingga mencapai level tertinggi sejak medio Maret. Kenaikan signifikan tersebut mendorong investor untuk melakukan penjualan guna merealisasikan keuntungan di tengah ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah.

Sentimen pasar saat ini sangat dipengaruhi oleh kabar perkembangan dialog antara Amerika Serikat dan Iran yang disebut kian mendekati kesepakatan damai. Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa pembicaraan dengan pihak Teheran akan terus berlanjut untuk mengakhiri konflik bersenjata.

Meskipun ada optimisme, investor masih bersikap waspada mengingat kegagalan kesepakatan pada pertemuan sebelumnya di Islamabad, Pakistan. Kondisi inflasi yang masih tinggi juga memberikan tekanan tambahan terhadap pergerakan aset aman seperti emas.

"Pasar terjebak di antara ekspektasi meredanya konflik dan risiko tekanan inflasi yang belum terselesaikan," ujar Dilin Wu, Research Strategist di Pepperstone Group Ltd. Menurut Wu, jika inflasi tetap tinggi, bank sentral kemungkinan besar akan mempertahankan kebijakan suku bunga ketat dalam waktu yang lebih lama.

Kondisi moneter yang ketat tersebut dinilai membatasi ruang penguatan emas karena aset ini tidak memberikan imbal hasil bunga secara langsung. Pelaku pasar kini menantikan kepastian hasil pembicaraan damai dan rilis data ekonomi terbaru untuk menentukan arah investasi selanjutnya.