Harga Emas Dunia Turun ke Level US$4.790 Per Troy Ounce

Sedang Trending 3 hari yang lalu

Nilai tukar emas di pasar spot mengalami penurunan sebesar 1,05 persen pada perdagangan Rabu (15/4/2026) seiring dengan menguatnya optimisme perdamaian di Timur Tengah. Penurunan harga ini mengembalikan stabilitas pasar keuangan global dan mengurangi permintaan aset aman.

Berdasarkan data yang dilansir dari Market melalui Kitco pada Kamis (16/4/2026), komoditas ini merosot 50,28 poin ke posisi US$4.790,94 per troy ounce. Angka tersebut menunjukkan tekanan signifikan terhadap logam mulia di tengah pergeseran sentimen investor global.

Senior Market Analyst Pepperstone, Michael Brown, menjelaskan bahwa level US$4.800 per troy ounce saat ini menjadi ambang batas penting bagi pergerakan emas. Investor dinilai masih bersikap waspada meski peluang kesepakatan damai jangka panjang mulai diantisipasi oleh para pelaku pasar modal.

Menurut Brown, pasar perlu mengurai tekanan spekulatif yang sebelumnya sempat mendorong harga mencapai rekor tertinggi pada awal tahun ini. Kondisi tersebut menjadi faktor utama yang menghambat pemulihan harga emas dalam waktu dekat meskipun indeks dolar AS sedang melemah.

Indeks dolar AS sendiri terpantau bergerak di kisaran level 98, yang merupakan posisi terendah sejak akhir Februari lalu. Fenomena ini menunjukkan adanya perubahan dinamika pasar karena emas justru bergerak searah dengan aset berisiko daripada berfungsi sebagai pelindung nilai tradisional.

"Emas diperdagangkan lebih menyerupai aset berisiko dengan beta tinggi ketimbang sebagai safe haven," kata Michael Brown, Senior Market Analyst Pepperstone. Ia menambahkan bahwa korelasi emas dengan nilai dolar atau imbal hasil riil saat ini sangat minim.

Prospek harga logam mulia kedepannya akan sangat bergantung pada kelanjutan proses de-eskalasi konflik di wilayah Timur Tengah. Jika stabilitas kawasan tersebut terus terjaga, fokus pasar diperkirakan akan beralih pada evaluasi dampak kerusakan ekonomi global akibat krisis sebelumnya.

Ekonomi Amerika Serikat diprediksi lebih tangguh menghadapi situasi ini karena statusnya sebagai eksportir energi bersih dan konsumsi domestik yang kuat. Sebaliknya, Uni Eropa dan Inggris menghadapi risiko kebijakan moneter yang lebih besar akibat ketergantungan pada impor energi.