Harga minyak mentah dunia mengalami lonjakan signifikan setelah pecahnya bentrokan bersenjata antara pasukan Amerika Serikat (AS) dan Iran pada Kamis (7/5/2026). Insiden di Selat Hormuz ini mengancam prospek perdamaian serta stabilitas pasokan energi global yang telah terganggu selama sepuluh minggu terakhir.
Dilansir dari Bloombergtechnoz, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) merangkak naik menuju level US$98 per barel setelah sesi perdagangan yang fluktuatif. Sementara itu, minyak mentah jenis Brent ditutup pada posisi yang mendekati angka US$100 per barel di pasar internasional.
Komando Pusat AS (Centcom) mengonfirmasi bahwa pasukannya mencegat serangan tanpa provokasi dari pihak Iran. Sebagai bentuk pertahanan diri, kapal perusak rudal kendali AS membalas serangan tersebut saat sedang melintasi jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz.
Blokade ganda kini terjadi di jalur perairan utama tersebut, di mana Teheran menghalangi lalu lintas kapal sementara AS melarang aktivitas pelabuhan Iran. Penutupan selat telah memicu guncangan pasokan energi karena terhentinya pengiriman minyak mentah dan operasional sumur minyak di kawasan tersebut.
Kondisi pasar saat ini sangat bergantung pada perkembangan situasi keamanan di Selat Hormuz untuk menentukan arah pergerakan harga ke depan. Dennis Kissler, Senior Vice President Trading BOK Financial Securities Inc., memberikan analisisnya terkait keterbatasan ruang penurunan harga saat ini.
"Selama lalu lintas di Selat Hormuz belum kembali setidaknya ke sebagian besar level normal sebelumnya, ruang penurunan harga minyak mentah akan tetap terbatas," ujar Dennis Kissler, Senior Vice President Trading BOK Financial Securities Inc.
Data pasar menunjukkan WTI untuk pengiriman Juni naik 3,3% menjadi US$97,90 per barel pada Jumat (8/5/2026) pagi waktu Singapura. Di sisi lain, kontrak Juli untuk Brent ditutup melemah tipis 1,2% ke level US$100,06 per barel pada perdagangan hari sebelumnya.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·