Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) melaporkan lonjakan harga pangan dunia ke posisi tertinggi dalam lebih dari tiga tahun pada Jumat (8/5/2026). Kenaikan ini dipicu oleh gangguan rantai pasok global akibat konflik di Iran yang memicu kekhawatiran pembengkakan biaya belanja konsumen.
Indeks komoditas pangan PBB tercatat mengalami kenaikan sebesar 1,6 persen sepanjang April 2026 dibandingkan bulan sebelumnya. Sebagaimana dilansir dari Bloombergtechnoz, pertumbuhan ini didorong oleh meroketnya harga minyak nabati, daging, serta produk serealia di pasar internasional.
Konflik bersenjata yang kini menginjak pekan ke-10 telah menyebabkan penutupan jalur perdagangan vital di Selat Hormuz. Dampaknya, arus distribusi input pertanian seperti pupuk dan solar terhambat sehingga mengancam produktivitas petani dan menaikkan biaya produksi pangan secara signifikan.
Kepala Ekonom FAO Máximo Torero memberikan analisis terkait daya tahan industri agrikultur dalam menghadapi situasi krisis saat ini.
"Industri pangan dan pertanian masih cukup tangguh untuk saat ini karena mereka menjual hasil produksi yang sudah ada," kata Máximo Torero, Kepala Ekonom FAO.
Penegasan tersebut diikuti dengan peringatan bahwa kestabilan harga tidak akan bertahan lama jika transmisi kenaikan harga energi terus berlanjut ke tingkat retail.
"Namun kondisi ini akan berubah sangat cepat ketika kenaikan harga komoditas dan energi mulai ditransmisikan, dan konsumen akan mulai merasakannya," kata Máximo Torero, Kepala Ekonom FAO.
Lonjakan harga minyak mentah juga berimbas pada permintaan biofuel yang meningkat tajam. Kondisi ini menyebabkan indeks minyak nabati PBB melambung 5,9 persen dibanding Maret 2026, mencapai titik tertinggi sejak pertengahan tahun 2022.
Torero memproyeksikan risiko jangka panjang jika kesepakatan damai yang diusulkan Amerika Serikat gagal menghentikan peperangan yang pecah sejak Februari tersebut.
"Jika konflik ini berlanjut hingga hari ke-90, potensi terjadinya krisis pangan akan jauh lebih tinggi pada akhir 2026 dan sepanjang 2027," ujar Máximo Torero, Kepala Ekonom FAO.
Data FAO merinci indeks harga daging naik 1,2 persen menuju rekor tertinggi baru, sementara harga serealia bertambah 0,8 persen. Kenaikan sektor serealia dipengaruhi oleh kekhawatiran cuaca buruk dan prediksi penurunan luas tanam gandum pada tahun ini karena mahalnya harga pupuk.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·