Bahlil Revisi Royalti Mineral Picu Anjloknya Saham Tambang

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Sejumlah saham emiten sektor mineral mengalami penurunan signifikan setelah Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia resmi merevisi besaran royalti mineral pada Jumat, 8 Mei 2026. Langkah ini berdampak langsung pada indeks harga saham gabungan akibat kekhawatiran pasar terhadap potensi tergerusnya margin laba perusahaan pertambangan.

Berdasarkan laporan Bloomberg Technoz, kebijakan tersebut tertuang dalam revisi Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 19 Tahun 2025 yang menyesuaikan tarif royalti untuk komoditas emas, tembaga, perak, nikel, timah, hingga kobalt. Kenaikan royalti ini diproyeksikan dapat meningkatkan penerimaan negara namun menjadi beban baru bagi para pelaku industri tambang.

Daftar Usulan Kenaikan Royalti MineralKomoditasTarif LamaTarif Baru
Konsentrat Tembaga7–10%9–13%
Katoda Tembaga4–7%7–10%
Emas7–16%14–20%
Perak5% (Flat)5–8% (Progresif)
Timah3–10%5–20%

Sentimen negatif ini tercermin pada pelemahan harga saham emiten besar pada penutupan perdagangan sesi kedua. Saham PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) merosot 7,97 persen ke posisi Rp 4.270, sementara PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) anjlok hingga 14,69 persen menjadi Rp 2.730.

Koreksi tajam juga dialami PT Timah Tbk (TINS) sebesar 14,88 persen ke level Rp 3.490. Emiten lainnya seperti PT Vale Indonesia Tbk (INCO) turun 12,30 persen ke Rp 5.525, dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) melemah 5,15 persen ke harga Rp 3.680.

Pihak BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS) menjelaskan bahwa investor memberikan respons negatif terhadap skema royalti progresif tersebut karena adanya risiko terhadap keberlanjutan ekspansi perusahaan di masa depan.

"Margin laba berpotensi tertekan akibat kenaikan beban royalti. Ketidakpastian regulasi dapat menahan ekspansi & investasi. Serta sentimen pasar terhadap sektor tambang cenderung negatif dalam jangka pendek," ungkap BRIDS.

Lembaga riset tersebut juga mencatat bahwa meski membebani emiten, regulasi ini menjadi strategi pemerintah untuk mengoptimalkan pendapatan dari kekayaan alam saat harga komoditas dunia sedang tinggi.

Di sisi lain, MNC Sekuritas menilai jatuhnya IHSG hingga hampir 3 persen pada hari yang sama didorong oleh tekanan pada saham-saham tambang serta kekhawatiran terhadap struktur royalti yang lebih cepat masuk ke lapisan tarif tinggi.

"Selain itu saham konglomerasi juga membebani pergerakan IHSG hari ini, antara lain BREN, PTRO, BRPT," tulis analisis MNC Sekuritas.

Penurunan indeks secara teknikal masih dipantau melalui dua skenario pergerakan harga. Jika IHSG gagal bertahan pada level support 6.876, maka terdapat risiko pelemahan lanjutan menuju area 6.727 hingga 6.838 dalam waktu dekat.