Harga komoditas tembaga dan aluminium mengalami penurunan tipis pada Kamis, 7 Mei 2026, seiring langkah Iran mengevaluasi proposal perdamaian baru dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Inisiatif diplomatik ini bertujuan mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama hampir sepuluh pekan.
Sentimen deeskalasi perang tersebut sebelumnya sempat memicu lonjakan harga logam industri pada Selasa dan Rabu karena optimisme pasar terhadap penurunan harga energi. Dilansir dari Bloombergtechnoz, Teheran saat ini tengah mempelajari memorandum satu halaman dari AS yang menawarkan pembukaan kembali Selat Hormuz.
Di pasar bursa Shanghai pukul 12:28 siang, harga tembaga terkoreksi 0,2 persen menjadi US$13.366 per ton menyusul stabilnya harga minyak dunia. Sementara itu, aluminium mencatatkan penurunan sebesar 0,6 persen dan harga seng dilaporkan tidak mengalami perubahan signifikan.
Gangguan pasokan selama perang di Timur Tengah telah mengacaukan pasar logam global, terutama akibat terputusnya aliran asam sulfat bagi para produsen. Penurunan produksi di pabrik-pabrik peleburan wilayah konflik juga sempat memicu kenaikan tajam harga aluminium sebelumnya.
Kepala analisis pasar global di Marex Spectron, Guy Wolf, memberikan pandangannya mengenai dinamika pasar ini dalam sebuah seminar di Hong Kong saat agenda LME Asia Week.
"Dalam jangka pendek, kami mungkin berpikir aluminium akan bereaksi negatif terhadap berakhirnya perang," kata Guy Wolf, kepala analisis pasar global di Marex Spectron.
Wolf menambahkan bahwa meskipun ada potensi reaksi negatif jangka pendek, situasi tersebut justru dapat dianggap sebagai momentum bagi para pelaku pasar. Hal ini didasari pada kondisi teknis di lapangan terkait pemulihan kapasitas produksi yang terdampak konflik.
"Tetapi mungkin justru itu akan memberikan peluang pembelian karena gangguan produksi tidak akan segera teratasi," kata Guy Wolf, kepala analisis pasar global di Marex Spectron.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·