Indonesia memiliki rekam jejak panjang dalam menghadapi berbagai dinamika sulit, mulai dari krisis ekonomi, politik, hingga ancaman ideologi dan pemberontakan. Dilansir dari Detikcom, Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid (HNW) menyatakan bahwa keberhasilan bangsa keluar dari tekanan tersebut berakar pada pengamalan Pancasila sebagai dasar negara.
Kekuatan ideologi nasional ini dinilai menjadi benteng utama dalam mengantisipasi potensi krisis baru yang mungkin timbul akibat eskalasi konflik global, seperti ketegangan antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran. HNW meyakini Indonesia mampu melalui tantangan tersebut selama seluruh elemen bangsa konsisten mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila.
HNW menekankan bahwa Pancasila adalah faktor krusial yang menjaga integrasi nasional di tengah keberagaman suku, ras, agama, dan budaya. Tanpa konsensus bersama pada ideologi ini, negara kepulauan yang luas seperti Indonesia akan sangat rentan terhadap perpecahan dan perselisihan internal.
Penyelamatan keutuhan bangsa bermula dari kesepakatan para tokoh pendiri, baik dari kalangan religius maupun nasionalis, untuk menerima Pancasila sebagai identitas kolektif. HNW mencontohkan peran aktif tokoh-tokoh dalam Panitia Sembilan saat menyusun Piagam Jakarta yang menjadi cikal bakal Pembukaan UUD 1945.
"Tetapi karena para tokoh bapak bangsa, baik yang religius maupun nasionalis, sepakat untuk mengakui dan menerima Pancasila sebagai ideologi bersama, maka selamatlah Indonesia. Bahkan sejak dari penyusunannya tokoh agama Islam, seperti Abdul Kahar Muzakir, H Agus Salim, dan Wachid Hasjim dan Kristiani seperti AA Maramis, terlibat langsung dalam Panitia 9 menyusun penyusunan Piagam Jakarta yang menjadi Pembukaan UUD 1945," ujar HNW.
Pengorbanan besar juga ditunjukkan demi persatuan negara saat tokoh-tokoh Islam merelakan penghapusan tujuh kata pada sila pertama. Hal ini dilakukan guna mengakomodasi keberatan masyarakat Indonesia Timur, sehingga berubah menjadi Ketuhanan Yang Maha Esa.
"Dan demi kesatuan negara dan keselamatan bangsa, para tokoh Islam itu juga rela menghilangkan tujuh kata pada sila pertama dalam Piagam Jakarta, sesuai keberatan masyarakat Indonesia Timur, dan mengubahnya menjadi Ketuhanan Yang Maha Esa, seperti yang terdapat pada sila pertama Pancasila," kata HNW.
Perbandingan dengan Runtuhnya Negara Besar
Dalam diskusi di Pangkalpinang pada Sabtu (18/4), HNW membandingkan daya tahan Indonesia dengan Uni Soviet yang pernah menjadi kekuatan dunia. Meskipun memiliki militer dan intelijen yang sangat kuat, Uni Soviet runtuh pada 1991 dan terpecah menjadi 15 negara karena ideologi komunisme yang diimpor tidak mengakar kuat di masyarakatnya.
Kondisi serupa dialami Yugoslavia yang kini terhapus dari peta dunia dan berganti menjadi tujuh negara merdeka akibat konflik etnis dan nasionalisme kedaerahan. Indonesia tetap kokoh karena memiliki ideologi yang digali dari nilai-nilai luhur komponen bangsanya sendiri.
"Indonesia adalah negara kepulauan, lebih dari 17.000 pulau, 700 lebih suku bangsa, dan enam agama resmi. Kalau kita tidak mempunyai ideologi yang tumbuh kembang dari Indonesia sendiri, maka kasus Uni Soviet dan Yugoslavia bisa terjadi," tutur HNW.
"Tapi kita tetap kokoh dan kuat karena mempunyai ideologi yang menyatukan kita semua. Ideologi ini tumbuh dari dalam, digali secara bersama-sama oleh komponen bangsa, baik tokoh nasional yang berlatar belakangkan organisasi kebangsaan, partai maupun profesi tapi juga melibatkan tokoh-tokoh umat Islam dari latar belakang ormas maupun orpol," lanjut HNW.
Kontribusi Partai Politik dalam Menghadapi Krisis
HNW mengajak umat Islam dan seluruh elemen bangsa untuk terus mengawal Pancasila melalui keteladanan pemimpin. Ia menekankan bahwa partai politik, terutama yang berbasis Islam, harus berada di barisan terdepan dalam mencari solusi atas permasalahan bangsa agar Indonesia selalu keluar dari krisis.
"Apalagi krisis yang sekarang terjadi masih berbentuk naiknya harga BBM, plastik dan kedelai. Jangan lupa, warga Indonesia itu pintar. Tidak menaikkan harga kedelai tidak menaikkan harga tempe, tapi bentuk tempenya saja diperkecil," kata politisi PKS tersebut.
"Artinya, kita mempunyai mekanisme untuk mengatasi masalah. Partai Politik, apalagi Partai Islam hendaknya menjadi garda terdepan menghadapi dan mengatasi krisis ini. Menyatukan bangsa dengan Pancasila-nya, karena sejak dari dulu Partai Islam itu berada di garda terdepan menyelesaikan permasalahan bangsa supaya keluar dari krisis-krisisnya," ujar HNW.
Kontribusi umat Islam juga terlihat dari penggunaan istilah-istilah khas dalam sila Pancasila, seperti kata 'adil' dan 'rakyat' yang diserap dari ungkapan khas Al-Qur'an dan hadis. Selain itu, sejarah mencatat jasa tokoh Masyumi melalui Mosi Integral Natsir pada 3 April 1950 yang mengembalikan bentuk negara dari RIS menjadi NKRI.
"Kalau dahulu tokoh-tokoh Islam berperan aktif menjadi kelompok yang memberikan solusi terhadap krisis dan masalah yang dihadapi bangsa Indonesia, sudah sewajarnya bila umat Islam, ormas Islam hingga partai Islam tidak dipinggirkan, melainkan dipercaya untuk kembali menjadi garda terdepan turut menyelesaikan krisis yang kita hadapi, termasuk krisis-krisis akibat perang di Timur Tengah," kata HNW.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·