ICDX catat lonjakan transaksi kontrak berjangka minyak mentah COFU10

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Jakarta (ANTARA) - Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) mencatat lonjakan transaksi kontrak berjangka komoditas minyak mentah COFU10 sebanyak 648 lot melonjak jauh dari transaksi di bulan Februari 2026 sebesar 12 lot dan Januari 2026 sebesar 4 lot.

Kenaikan ini disebabkan adanya sejak krisis politik yang terjadi di Timur Tengah.

COFU10 merupakan kontrak berjangka minyak mentah yang merepresentasikan 10 barel per lot. Adapun jenis minyak mentah dalam kontrak berjangka ini adalah jenis West Texas Intermediate (WTI), yaitu minyak mentah ringan (light) dan manis (sweet), yang menjadi salah satu patokan (benchmark) harga minyak dunia utama.

“Lonjakan transaksi kontrak berjangka minyak mentah khususnya COFU10 ini menunjukkan tingginya minat pelaku usaha melakukan hedging atau lindung nilai atas komoditas tersebut,” ucap Direktur ICDX Nursalam dalam keterangan resmi di Jakarta, Kamis.

Dia menyampaikan bahwa krisis di Timur Tengah cukup memberikan guncangan pada pasar energi global, khususnya minyak mentah. Dalam situasi seperti ini, hedging atau lindung nilai dapat mengatasi risiko yang terjadi atas perubahan harga pada pasar fisik (spot).

Selain kontrak berjangka minyak mentah, lanjutnya, ICDX telah memfasilitasi transaksi multilateral yang dapat dimanfaatkan para pelaku usaha untuk hedging dari beberapa komoditi seperti mata uang dan emas.

“Sebagai bursa, kami akan terus mengembangkan kontrak-kontrak berjangka sesuai dengan kebutuhan para pelaku usaha,” kata Nursalam.

Commodity Analyst Research & Development ICDX Girta Yoga mengatakan harga minyak mentah dalam jangka pendek masih cukup kuat untuk bergerak pada tren bullish, karena efek dari risiko geopolitik timur tengah yang saat ini menjadi katalis penggerak utama belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

“Risiko geopolitik dari perang Iran ini berdampak langsung pada gangguan pasokan di pasar global akibat aksi saling blokade di jalur pengiriman vital, terutama Selat Hormuz yang berkontribusi terhadap sekitar 20 persen pasokan energi global,” ucapnya.

Baca juga: Bappebti terbitkan kontrak untuk dukung EBT di bursa berjangka

Baca juga: Rupiah sentuh Rp17.304 per dolar AS, faktor eksternal jadi sebab utama

Baca juga: Rupiah melemah dipicu ketegangan AS-Iran yang tingkatkan harga energi

Baca juga: Biodiesel B50 dalam kerangka ketahanan energi dan pangan

Pewarta: M Baqir Idrus Alatas
Editor: Indra Arief Pribadi
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.