Jakarta (ANTARA) - Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) meminta seluruh tenaga kesehatan (nakes) untuk memperbaiki cara komunikasi dengan pasien dan lebih gencar memberikan edukasi baik soal vaksinasi.
"Nakes itu memiliki keyakinan, kepercayaan, dia memiliki pengetahuan yang bagus tentang imunisasi, kemudian manfaat imunisasi atau tentang Kejadian Ikutan Pascaimunisasi (KIPI)," kata Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Tumbuh Kembang dan Pediatri Sosial IDAI Dr. dr. Rodman Tarigan, Sp.A, Subsp.T.K.P.S (K) dalam diskusi daring di Jakarta, Selasa.
Rodman mengatakan komunikasi tenaga kesehatan yang baik dan tenang dapat meyakinkan masyarakat maupun orang tua untuk lebih paham mengenai pentingnya imunisasi.
Orang tua yang semula ragu juga akan terdorong untuk mengajak anaknya mengikuti kegiatan imunisasi.
Dia mencontohkan dari pengalamannya pernah menemui ibu dengan sembilan anak, empat anak di antaranya pernah terkena campak.
Baca juga: IDAI tekankan pentingnya vaksinasi meski ASI sudah tercukupi
Setelah diajak berbicara, ternyata ibu tersebut mengaku bahwa anak-anaknya belum diimunisasi karena tidak sempat mengikutinya. Sementara sang ibu sebenarnya memiliki keinginan untuk melakukan vaksinasi.
"Ada yang disebut dengan Motivational Interviewing (MI), di mana kita sebagai nakes, memiliki kemampuan empati untuk mendengar, kemudian jangan langsung menstigma. Dengarkan kemudian apa kekhawatirannya, kalau kita tanya sebetulnya orang tua itu paham ingin anak sehat," katanya.
Dengan berdiskusi bersama orang tua, katanya, nakes dapat mengetahui penyebab timbulnya rasa ragu untuk mengikuti imunisasi. Nakes juga dapat informasi lebih mengenai adanya keluhan lainnya, sehingga dapat mencari celah untuk memberikan edukasi secara perlahan.
Hal-hal yang disampaikan nakes dinilainya akan sangat memengaruhi pertimbangan orang tua untuk memutuskan boleh tidaknya anak divaksinasi.
Selain keraguan orang tua, tenaga kesehatan diharapkan dapat menanyakan kondisi anak yang bersangkutan. Misalnya, waktu kontrol ke dokter, pernah atau tidaknya mengunjungi fasilitas kesehatan dan riwayat kesehatan lainnya.
"Jadi untuk keberhasilan (meningkatkan cakupan vaksinasi), kemampuan nakes akan vaksinasi juga harus kuat. Kemudian kemampuan berkomunikasinya," kata dia.
Baca juga: Hoaks soal vaksinasi dipengaruhi kecepatan berkembangnya medsos
Baca juga: IDAI sebut imunisasi rutin bisa cegah KLB penyakit menular
Baca juga: IDAI: Beri informasi positif untuk edukasi kelompok antivax
Pewarta: Hreeloita Dharma Shanti
Editor: Mahmudah
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·