IdScore: Industri kredit nasional solid di tengah tekanan geopolitik

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Jakarta (ANTARA) - PT Pefindo Biro Kredit (IdScore) menilai industri perkreditan nasional masih menunjukkan daya tahan, yang solid di tengah meningkatnya tekanan dari tingkat global, utamanya akibat konflik antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran.

Selain itu, juga tetap solid di tengah volatilitas nilai tukar rupiah, serta tantangan implementasi Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2022 tentang Pelindungan Data Pribadi (UU PDP).

"Pertumbuhan kredit nasional tetap positif, meski kualitas risiko pada segmen tertentu perlu menjadi perhatian lebih serius," ujar Direktur Utama IdScore Tan Glant Saputrahadi dalam media gathering bertema "Lanskap Kredit & PayLater Indonesia di Tengah Tekanan Geopolitik & Makroekonomi serta Implementasi UU PDP" di Jakarta, Selasa.

Per Februari 2026, total outstanding kredit nasional mencapai Rp9.938,2 triliun dengan pertumbuhan 9,6 persen year on year (yoy). Sementara, rasio kredit bermasalah (NPL Gross) masih terjaga di kisaran 2,85 persen.

Namun demikian, tekanan mulai terlihat pada segmen konsumtif dan borrower dengan profil pendapatan lebih rentan, terutama di tengah daya beli masyarakat yang masih tertekan serta tingginya biaya dana akibat ketidakpastian global.

Dalam kesempatan ini, IdScore menyoroti pesatnya pertumbuhan layanan Buy Now Pay Later (BNPL) atau PayLater di Indonesia.

Per Februari 2026, outstanding PayLater tercatat mencapai Rp56,3 triliun dengan pertumbuhan 86,7 persen (yoy), atau jauh melampaui pertumbuhan kredit konsumtif konvensional.

Di sisi lain, rasio kredit bermasalah PayLater masih berada di level relatif tinggi sekitar 5 persen, atau mencerminkan perlunya penguatan prinsip responsible lending, pemanfaatan data yang lebih presisi, serta edukasi keuangan kepada masyarakat.

IdScore menyoroti pola kepemilikan multi akun PayLater, yang mana rata-rata debitur tercatat memiliki tujub fasilitas aktif di seluruh LJK bahkan ditemukan kasus ekstrem debitur memiliki lebih dari 1.000 fasilitas kredit.

"Fakta tersebut menunjukkan ada potensi meningkatnya risiko overleverage apabila tidak dikelola secara prudent," ujar Tan.

Tan menjelaskan tekanan eksternal seperti perang dagang global, konflik di Timur Tengah, serta suku bunga global yang masih tinggi turut memberikan dampak terhadap industri keuangan domestik.

Selain itu, kurs rupiah yang telah melampaui Rp17.000 per dolar AS dan likuiditas perbankan yang lebih ketat, berpengaruh terhadap lambatnya penurunan suku bunga kredit.

Untuk tahun 2026, IdScore memproyeksikan pertumbuhan kredit nasional berpotensi berada di kisaran 10-11 persen, dengan kualitas aset tetap terkendali apabila stabilitas makroekonomi terjaga.

Sementara itu, pertumbuhan PayLater diproyeksikan tetap tinggi namun mulai memasuki fase normalisasi, seiring meningkatnya pengawasan regulator dan fokus industri pada kualitas portofolio.

"Kredit yang sehat adalah fondasi ekonomi yang kuat. Pertumbuhan kredit tanpa literasi dan pengawasan yang memadai berpotensi menjadi risiko sistemik yang tertunda. Karena itu, keseimbangan antara ekspansi, mitigasi risiko, dan perlindungan data menjadi kunci keberlanjutan industri keuangan nasional," ujar Tan.

Meski Bank Indonesia (BI) telah menurunkan BI Rate secara bertahap, Tan menjelaskan bahwa transmisi ke bunga kredit masih membutuhkan waktu sehingga beban debitur, khususnya segmen ritel, masih cukup tinggi.

Di sisi lain, Tan mengatakan penerapan UU PDP dipandang sebagai momentum penting bagi industri jasa keuangan untuk semakin memperkuat tata kelola data, keamanan sistem, serta menjaga kepercayaan publik.

Namun demikian, lanjutnya, implementasinya juga perlu dilakukan secara seimbang dan terukur, agar pembatasan dalam pengelolaan informasi tidak menimbulkan tantangan baru maupun meningkatkan eksposur risiko bagi LJK dalam proses penyaluran kredit dan pembiayaan kepada masyarakat luas.

Sebagai lembaga pengelola informasi perkreditan, IdScore selalu menempatkan pelindungan data pribadi sebagai prioritas utama melalui penguatan governance, peningkatan sistem keamanan informasi, serta pemrosesan data yang sesuai prinsip transparansi, akuntabilitas, dan purpose limitation.

Baca juga: Dirut IdScore: Sistem EAGLE dikembangkan 100 persen oleh anak bangsa

Baca juga: IdScore rilis aplikasi mobile mudahkan masyarakat akses data kredit

Baca juga: IdScore: Industri jasa keuangan terus berlomba lakukan inovasi layanan

Pewarta: Muhammad Heriyanto
Editor: Kelik Dewanto
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.