Badan Energi Internasional (IEA) melaporkan cadangan minyak global mengalami penyusutan dengan laju tertinggi dalam sejarah pada April 2026. Fenomena ini dipicu oleh ketegangan bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran yang mengganggu pasokan energi di kawasan Timur Tengah.
Dilansir dari Money, laporan Oil Market Report edisi Mei 2026 menunjukkan sekitar 4 juta barel minyak per hari diambil dari stok cadangan selama periode tersebut. Kondisi ini secara langsung menekan ketersediaan energi di pasar internasional akibat terhambatnya jalur distribusi utama.
"Lebih dari sepuluh minggu setelah perang di Timur Tengah dimulai, gangguan pasokan yang terus meningkat dari Selat Hormuz menguras persediaan minyak global dengan laju rekor," tulis IEA dalam laporannya yang dikutip pada Jumat (15/5/2026).
Lembaga yang bermarkas di Paris tersebut mencatat total persediaan minyak dunia, termasuk yang berada di kapal tanker, berkurang 250 juta barel selama Maret dan April 2026. Penutupan akses Selat Hormuz menjadi penyebab utama karena jalur tersebut mengangkut seperlima perdagangan minyak mentah laut dunia.
"Dengan lalu lintas tanker Hormuz yang masih terbatas, akumulasi kehilangan pasokan dari produsen Teluk sudah melampaui 1 miliar barrel dengan lebih dari 14 juta barrel per hari kini dihentikan," ungkap IEA.
Penurunan pasokan global tercatat mencapai 1,8 juta barel per hari (bph) pada April menjadi 95,1 juta bph. Sebagai respons atas krisis ini, sejumlah produsen di luar kawasan Timur Tengah seperti Amerika Serikat, Brasil, dan Kanada mulai meningkatkan volume ekspor mereka.
"Produsen di luar Timur Tengah juga meningkatkan output dan mendorong ekspor ke level rekor sebagai respons terhadap krisis," tulis IEA.
Kawasan Amerika diproyeksikan memberikan tambahan pasokan rata-rata 1,5 juta bph pada tahun ini. Selain itu, ekspor minyak mentah dari Rusia juga terpantau meningkat akibat berkurangnya konsumsi domestik menyusul serangan pada fasilitas kilang lokal.
"Ekspor minyak mentah Rusia juga meningkat, karena serangan berulang terhadap kilang-kilang minyaknya telah mengurangi penggunaan domestik dan menyebabkan peningkatan pengiriman," ungkap IEA.
Meskipun ada peningkatan produksi dari wilayah lain, IEA memperkirakan defisit kumulatif minyak global akan menyentuh angka 900 juta barel pada September 2026. Hal ini menyebabkan sektor petrokimia dan industri penerbangan mengalami hambatan operasional yang signifikan.
"Untuk saat ini, kerugian paling besar terlihat di sektor petrokimia, di mana ketersediaan bahan baku semakin terbatas. Aktivitas penerbangan juga masih berjalan jauh di bawah level normal," tulis IEA.
Lembaga tersebut menekankan bahwa pengisian kembali cadangan strategis akan memerlukan waktu yang panjang. Proses pemulihan stok ini diperkirakan membutuhkan tambahan pasokan konsisten selama beberapa tahun ke depan.
"Membangun kembali stok tersebut, termasuk cadangan strategis, akan membutuhkan tambahan pasokan sekitar 1 juta bph selama tiga tahun ke depan," terang IEA.
Dampak ekonomi dari situasi ini terlihat pada lonjakan harga minyak mentah Brent yang sempat menyentuh 140 dollar AS per barel pada April lalu. Kondisi harga yang tinggi ini dikhawatirkan dapat memicu inflasi energi global dan menekan daya beli masyarakat dunia.
"LPG/etana dan nafta menyumbang sekitar setengah dari perkiraan penurunan permintaan tahun 2026 dibandingkan dengan tingkat sebelum perang," terang IEA.
Di sisi lain, Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) merespons situasi pasar dengan menurunkan proyeksi pertumbuhan permintaan minyak global 2026 menjadi 1,2 juta bph. Penurunan ini dipengaruhi oleh pelemahan ekonomi dan kebijakan penghematan energi di berbagai negara.
"Harga yang lebih tinggi, lingkungan ekonomi yang memburuk, dan langkah-langkah penghematan permintaan akan semakin menekan konsumsi minyak global," ujar IEA.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·