IHSG Anjlok 2,16 Persen ke Level 7.378 pada 23 April 2026

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan hebat hingga terperosok ke zona merah pada perdagangan Kamis (23/4/2026). Dilansir dari Bloombergtechnoz, indeks domestik ini melemah signifikan lebih dari 2% di tengah tren negatif bursa Asia.

IHSG mengakhiri sesi perdagangan di posisi 7.378, mengalami penurunan sebesar 2,16% atau kehilangan 163 poin. Sepanjang hari, indeks bergerak fluktuatif dengan titik tertinggi di 7.582 dan menyentuh level terendah pada posisi penutupan.

Data Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan volume perdagangan mencapai 54,16 miliar saham dengan nilai transaksi Rp20,49 triliun. Frekuensi transaksi tercatat sebanyak 3,07 juta kali, sementara indeks LQ45 juga rontok 2,73% ke level 715,878.

Sektor konsumen non-primer menjadi yang paling terpukul dengan kejatuhan 3,43%, disusul sektor perindustrian yang turun 3,41%. Sektor teknologi, infrastruktur, dan barang baku turut memberikan kontribusi negatif terhadap indeks hari ini.

Daftar Saham Top Losers 23 April 2026Nama EmitenKode SahamPersentase Penurunan
DEFI14,9%BOBA
14,7%HOPE14,6%

Tekanan Mata Uang dan Sentimen Global

Anjloknya pasar saham domestik tidak lepas dari kondisi nilai tukar rupiah yang terus terdepresiasi terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Pada penutupan pasar spot, nilai tukar rupiah berada di posisi Rp17.295 per dolar AS atau melemah 0,7%.

Rupiah bahkan sempat menyentuh All Time Low (ATL) baru di level Rp17.315 per dolar AS selama sesi perdagangan intraday. Kondisi ini dipicu oleh ketidakpastian konflik di Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga komoditas energi secara global.

Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) melonjak 5,84% ke level US$94,84 per barel. Sementara itu, minyak jenis Brent melesat hingga 8,77% dan bertengger di posisi US$103,85 per barel pada perdagangan Kamis.

Kenaikan harga minyak yang melampaui asumsi APBN 2026 sebesar US$70 per barel diprediksi akan membebani fiskal negara. Setiap kenaikan harga minyak US$1 berpotensi menambah beban subsidi energi antara Rp10 triliun hingga Rp13 triliun per tahun.

Fenomena pasar yang memerah juga melanda hampir seluruh bursa utama di Asia. Indeks Komposit menjadi yang terdampak paling parah, diikuti oleh pelemahan pada bursa Thailand (SETI), Singapura (Straits Times), hingga Jepang (Nikkei 225) dan Korea (KOSDAQ).

Sentimen negatif ini memicu aksi jual oleh investor di pasar keuangan dalam negeri, termasuk pada pasar Surat Utang Negara (SUN). Pelepasan aset obligasi terlihat dari kenaikan imbal hasil (yield) di hampir semua tenor pada Kamis sore.

Kenaikan imbal hasil paling tajam terjadi pada tenor pendek, di mana tenor 1 tahun melonjak 10 bps ke level 5,763%. Tenor 5 tahun juga mencatatkan kenaikan signifikan sebesar 13,9 bps menjadi 6,501%.

Tren kenaikan yield ini berlanjut pada tenor panjang seperti 10 tahun yang menguat menjadi 6,703%. Bahkan tenor 40 tahun ikut mengalami penguatan tipis sebesar 0,4 bps menjadi 6,854% seiring dengan dinamika pasar global.