IHSG Anjlok 2 Persen dan Rupiah Tembus Rp17.669 per Dolar AS

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan tajam sebesar 2% hingga menyentuh posisi 6.186 pada perdagangan pagi. Dikutip dari Bloombergtechnoz, pergerakan negatif ini terjadi setelah nilai tukar rupiah melemah ke posisi Rp17.669 per dolar AS yang mendekati level terendah sepanjang sejarah.

Koreksi dalam pada indeks dipicu oleh kejatuhan sejumlah saham berkapitalisasi besar. Sektor barang baku memimpin pelemahan dengan pangkasan 5,25%, diikuti sektor infrastruktur yang turun 3,53%, serta sektor transportasi yang terpangkas 3,51%.

Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), indeks bergerak fluktuatif dalam rentang 6.378 hingga level terendah 6.177. Total nilai transaksi pagi ini mencapai Rp5,57 triliun dari 10,66 miliar saham yang diperdagangkan dalam frekuensi 659 ribu kali.

Secara keseluruhan, tercatat sebanyak 502 saham mengalami penurunan harga. Sementara itu, 169 saham terpantau masih menguat dan 132 saham lainnya bergerak stagnan.

Daftar Saham Berbobot Besar yang Menekan Pergerakan IHSGNama Emiten (Kode)Persentase PelemahanPT Ekamas Mora Republik Tbk (MORA)PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN)PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS)PT Barito Pacific Tbk (BRPT)PT Astra International Tbk (ASII)
Melemah 11,23%
Melemah 9,68%
Melemah 9,09%
Melemah 8,72%
Melemah 4,61%

Tekanan Makroekonomi Global dan Domestik Terhadap Rupiah

Pelemahan nilai tukar rupiah di pasar spot yang turun 0,36% ke Rp17.669 per dolar AS menjadi faktor penekan utama bursa. Jika tren penurunan ini terus berlanjut, level support psikologis berikutnya diperkirakan berada di posisi Rp17.700 per dolar AS hingga Rp17.800 per dolar AS.

Lonjakan imbal hasil obligasi global yang dipicu kekhawatiran inflasi akibat kenaikan harga minyak memicu ancaman arus modal keluar (capital outflow) dari Asia. Risiko ini diproyeksikan masih membayangi pasar keuangan domestik dalam jangka pendek.

"Dalam jangka pendek, mata uang Asia kemungkinan masih akan diperdagangkan dalam posisi yang lebih lemah," kata Chrispother Wong, strategist di Oversea-Chinese Banking Corp., seperti yang dilaporkan Bloomberg News.

Tantangan Stabilitas Fiskal dan Ruang Gerak Belanja Negara

Bank Indonesia sebenarnya telah mengambil langkah agresif dengan menaikkan BI Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25% demi menjaga stabilitas pasar. Namun, efektivitas kebijakan tersebut dinilai sangat bergantung pada faktor eksternal, khususnya pergerakan harga minyak mentah.

Dari sisi domestik, pelaku pasar menyoroti kerapian kondisi fiskal nasional akibat rendahnya rasio penerimaan negara terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Presiden Prabowo Subianto sebelumnya mengonfirmasi bahwa rasio pendapatan Indonesia hanya berkisar 11-12% dari PDB.

Angka tersebut berada di bawah negara tetangga seperti Meksiko sebesar 25%, India 20%, Filipina 21%, dan Kamboja 15%. Kondisi ini memberikan sinyal keterbatasan ruang fiskal pemerintah di tengah kebutuhan belanja yang besar untuk subsidi energi dan stabilitas ekonomi.