Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan di zona hijau pada awal pekan ini. Dilansir dari Money, bursa domestik mencatat penguatan sebesar 0,72 persen atau bertambah 44,30 poin menuju posisi 6.206,35 pada perdagangan Senin, 25 Mei 2026.
Indeks saham membuka hari pada level 6.187,65, kemudian bergerak aktif dalam rentang nilai terendah 6.124,58 hingga mencapai puncaknya di 6.239,59. Tren positif ini berjalan selaras dengan mayoritas bursa di kawasan Asia yang juga terpantau mengalami apresiasi.
Data perdagangan menunjukkan sebanyak 470 saham berakhir naik, 236 saham mengalami penurunan, sedangkan 114 saham lainnya tidak bergerak. Volume perdagangan saham tercatat menyentuh 27,54 miliar lembar saham.
Nilai transaksi di pasar saham hari ini membukukan angka Rp 16,83 triliun. Seluruh aktivitas perdagangan tersebut bergulir dengan frekuensi transaksi mencapai 2,06 juta kali.
Kenaikan indeks acuan utama turut memicu pertumbuhan pada sejumlah indeks saham unggulan lainnya. Indeks LQ45 melonjak sebesar 1,74 persen ke posisi 631,21, indeks KOMPAS100 terangkat 0,95 persen ke 820,44, serta IDX30 menguat 1,62 persen menjadi 360,41.
Sebaliknya, pergerakan indeks berbasis syariah memperlihatkan hasil yang lebih bervariasi. Jakarta Islamic Index (JII) mengalami penurunan 0,23 persen ke level 386,03, ISSI terkoreksi 0,10 persen menjadi 217,84, dan JII70 melemah 0,24 persen pada posisi 151,50.
Laju IHSG mendapat dorongan kuat dari performa mayoritas sektor saham yang ada. Tercatat sebanyak enam dari total 11 indeks sektoral berhasil menyelesaikan perdagangan di zona hijau.
Sektor transportasi menjadi motor utama dengan lonjakan tertinggi sebesar 3,83 persen ke level 1.797,59. Penguatan berikutnya disusul oleh sektor keuangan yang naik 1,42 persen menjadi 1.320,02, serta sektor properti yang tumbuh 1,29 persen menuju 830,61.
Sektor barang konsumen siklikal juga menambah kekuatan dengan naik 1,09 persen ke level 940,78. Sektor industri mengalami kenaikan 0,79 persen ke posisi 1.705,80, disusul sektor infrastruktur yang menguat 0,77 persen ke level 1.853,04.
Di sisi lain, sektor energi berbalik menjadi penahan laju indeks setelah merosot 2,04 persen menuju posisi 2.886,37. Penurunan ini menjadikannya sebagai sektor dengan koreksi terdalam pada perdagangan hari ini.
Sektor barang baku juga melemah sebesar 0,94 persen ke level 1.629,33. Sektor teknologi turun 0,31 persen ke 6.999,07, sektor barang konsumen non-primer melorot 0,13 persen menjadi 686,68, dan sektor kesehatan terkikis 0,09 persen ke posisi 1.562,71.
Performa Saham Unggulan LQ45
Emiten dari sektor pertambangan, telekomunikasi, dan perbankan mendominasi pergerakan positif pada kelompok saham unggulan LQ45 hari ini.
PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) menempati urutan teratas top gainers LQ45 dengan lonjakan 8,62 persen ke harga Rp 3.150 per saham. Diikuti PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) yang melesat 8,17 persen menjadi Rp 1.390.
PT Indosat Tbk (ISAT) menempati posisi selanjutnya dengan kenaikan 5,37 persen ke level Rp 2.160. PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) terkerek 4,78 persen ke Rp 2.850, dan PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR) menguat 4,73 persen ke harga Rp 1.550.
Sementara itu, penurunan terdalam di kelompok LQ45 dialami oleh PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) yang anjlok 9,12 persen ke posisi Rp 1.295. PT Barito Pacific Tbk (BRPT) menyusul dengan pelemehan sebesar 7,79 persen menuju Rp 1.480.
Saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) juga terpangkas 7,57 persen ke harga Rp 171. PT Darma Henwa Tbk (DEWA) mengalami penurunan 7,41 persen menjadi Rp 350, serta PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) merosot 5,63 persen ke level Rp 486.
Dari aspek likuiditas, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) membukukan nilai transaksi tertinggi senilai Rp 1,59 triliun. Diikuti oleh BMRI sebesar Rp 990,60 milar, AMMN Rp 789,63 miliar, BUMI Rp 780,77 miliar, dan BBRI mencapai Rp 765,71 miliar.
Untuk volume perdagangan, saham BUMI mencatat transaksi paling masif dengan 44,36 juta lembar saham. BNBR mengekor dengan 9,45 juta lembar, BIPI 7,95 juta lembar, DEWA 6,48 juta lembar, serta PACK sebanyak 6,43 juta lembar saham.
Rupiah Tertekan di Tengah Penguatan Bursa Regional
Meskipun pasar saham domestik bergerak positif, nilai tukar rupiah justru mengalami koreksi terhadap dollar AS pada penutupan perdagangan pasar spot.
Mata uang Garuda mengalami penurunan sebesar 0,15 persen atau melemah 27 poin ke level Rp 17.744 per dollar AS. Posisi ini menunjukkan penurunan jika dibandingkan dengan penutupan hari Jumat, 22 Mei 2026 yang berada pada level Rp 17.717.
Koreksi ini menempatkan rupiah sebagai satu-satunya mata uang di Asia yang mengalami pelemehan terhadap dollar AS hari ini. Sementara itu, situasi bursa saham regional Asia secara umum justru bergerak menguat bersama IHSG.
Indeks Nikkei 225 di Jepang melesat tinggi hingga 2,87 persen menuju level 65.158,19. Indeks SSE Composite di China mengalami penguatan sebesar 0,96 persen ke posisi 4.152,57.
Apresiasi juga terjadi pada indeks Hang Seng Hong Kong yang naik 0,86 persen menjadi 25.606,03. Selanjutnya, indeks KOSPI di Korea Selatan terangkat sebesar 0,41 persen ke level 7.847,71, dan indeks S&P/ASX 200 di Australia merangkak naik 0,40 persen ke posisi 8.692,00.
45 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·