IHSG Melemah Akibat Pembekuan Indeks MSCI dan Koreksi Saham BREN DSSA

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan sebesar 0,59 persen atau 44,7 poin ke level 7.549,41 pada sesi perdagangan pertama Selasa (21/4/2026) setelah MSCI memutuskan untuk tetap membekukan penyeimbangan indeks di pasar modal Indonesia.

Data dari IDNFinancials.com menunjukkan total perputaran pasar mencapai Rp9,81 triliun dengan 24,2 miliar saham yang diperdagangkan, di mana sebanyak 298 saham terkoreksi sementara 256 saham menguat dan 160 lainnya tidak berubah.

Penurunan tajam terjadi pada saham-saham berkapitalisasi raksasa seperti PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) yang anjlok 7,20 persen ke posisi Rp6.125 dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) yang merosot 13,15 persen ke level Rp2.840.

Koreksi ini dipicu oleh pengumuman MSCI yang mempertahankan status pembekuan sementara untuk Indonesia, yang berarti tidak akan ada penambahan saham baru maupun peningkatan bobot pada MSCI Investable Market Indexes (IMI) hingga evaluasi selesai.

Penyusun indeks global tersebut menyatakan bahwa data dari sumber dan pengungkapan baru tidak akan dimasukkan ke dalam penilaian free float atau kalkulasi indeks hingga umpan balik dari pelaku pasar diterima dan dianalisis.

"MSCI will not incorporate data from these new sources and disclosures into free float assessments or index calculations until the evaluation process is completed and feedback from market participants has been received and analysed," tegas pihak MSCI dalam pernyataan resminya pada Senin (20/4) malam.

Langkah MSCI ini bertujuan untuk membatasi risiko perputaran indeks serta risiko investabilitas di pasar modal Indonesia sembari memantau efektivitas reformasi transparansi yang dilakukan otoritas bursa setempat.

"In the May 2026 review, they chose to hold back. This shows that MSCI still wants to ensure the implementation of reforms and data quality are truly solid before making further decisions," kata Hendra Wardana, Pendiri Stocknow.id.

Hendra menambahkan bahwa sinyal ini menunjukkan aliran modal asing kemungkinan besar masih akan tertahan dalam jangka pendek karena investor memilih untuk menunggu dan melihat perkembangan implementasi reformasi data.

Pihak Bursa Efek Indonesia (BEI) sendiri telah mengusulkan empat poin reformasi transparansi, termasuk pengungkapan kepemilikan saham di atas 1 persen dan identifikasi saham High Shareholding Concentration (HSC).

"We appreciate that the four proposals we delivered have been acknowledged by MSCI," ujar Jeffrey Hendrik, Pelaksana Tugas Direktur Utama BEI.

Meskipun ada apresiasi tersebut, MSCI tetap memberikan peringatan bahwa mereka mungkin menggunakan data pemegang saham 1 persen yang baru diungkapkan untuk memangkas estimasi free float, yang berisiko menyebabkan penghapusan lebih banyak saham dari indeks.