IHSG Melemah ke Level 7.623 saat Pemerintah Ubah Formula Harga Mineral

Sedang Trending 3 hari yang lalu

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami depresiasi sebesar 0,68 persen ke posisi 7.623,59 pada akhir perdagangan Rabu (15/4). Penurunan ini dipicu oleh aksi jual bersih investor asing yang mencapai Rp1,23 triliun di pasar reguler saat sentimen global bergerak variatif.

Dilansir dari Detik Finance, tekanan terhadap indeks domestik bersumber dari pelemahan saham-saham perbankan besar seperti BBCA yang turun 2,96 persen dan BBRI sebesar 1,73 persen. Meski saham MDKA melonjak 4,36 persen dan ASII naik 2,44 persen, penguatan tersebut belum cukup mengangkat performa indeks ke zona hijau.

Data perdagangan menunjukkan enam dari sebelas sektor di Bursa Efek Indonesia berakhir di zona merah. Sektor kesehatan mencatat koreksi terdalam hingga 2,81 persen, sementara sektor transportasi justru memimpin penguatan dengan kenaikan signifikan sebesar 3,45 persen.

Di tengah fluktuasi pasar, pemerintah resmi memperbarui formula Harga Patokan Mineral (HPM) untuk komoditas nikel dan bauksit mulai 15 April 2026. Melalui Kepmen ESDM Nomor 144.K/MB.01/MEM.B/2026, penentuan harga kini mempertimbangkan mineral tambahan seperti besi, kobalt, dan krom.

Penyesuaian aturan ini juga mengubah parameter reaktif silika pada bauksit serta mengganti satuan harga dari Dry Metric Ton (DMT) menjadi Wet Metric Ton (WMT). Langkah ini bertujuan menyelaraskan harga domestik dengan pasar global guna mendukung optimalisasi penerimaan negara.

Dari sisi korporasi, PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) mengumumkan pembagian dividen final sebesar Rp335 per saham melalui Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan. Keputusan ini membuat total dividen tahun buku 2025 mencapai Rp458 per saham atau setara dengan Rp881,5 miliar.

Emiten perkebunan tersebut mengalokasikan sekitar 60 persen dari laba bersih untuk dividen, sementara sisa laba ditetapkan sebagai cadangan perusahaan. Dana cadangan tersebut rencananya akan digunakan untuk mendukung program penanaman kembali atau replanting tanaman sawit di masa mendatang.

AALI dijadwalkan menyalurkan sisa pembayaran dividen sebesar Rp647 miliar kepada pemegang saham pada 13 Mei 2026. Sebelumnya, perusahaan telah membayarkan dividen interim senilai Rp123 per saham pada bulan Oktober 2025.