Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali terkoreksi pada perdagangan Rabu (22/4/2026) setelah investor asing melakukan tekanan jual pada saham-saham perbankan berkapitalisasi besar. Penurunan ini memperpanjang tren pelemahan indeks selama tiga hari berturut-turut di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Data BEI yang dilansir dari Money menunjukkan investor asing mencatatkan jual bersih atau net sell mencapai Rp 827,42 miliar di seluruh pasar. Tekanan paling signifikan terjadi di pasar reguler dengan nilai mencapai Rp 1,04 triliun, sementara pasar negosiasi mencatatkan beli bersih sebesar Rp 212,58 miliar.
Aksi jual investor asing terpusat pada emiten perbankan jumbo. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) mencatatkan pelepasan terbesar senilai Rp 404,9 miliar, disusul PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) sejumlah Rp 165,6 miliar, dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) sebanyak Rp 110 miliar.
Secara keseluruhan, IHSG pada perdagangan Rabu berakhir di level 7.541,61 atau mengalami penurunan 0,24 persen. Sepanjang sesi, indeks sempat merosot hingga titik terendah di level 7.513,94 dan hanya mampu mencapai posisi tertinggi pada level 7.578,05 dengan pergerakan yang relatif terbatas.
Meskipun indeks melemah, pergerakan individu saham perbankan menunjukkan dinamika yang beragam. Saham BMRI berhasil ditutup menguat tipis sebesar 1,06 persen ke level 4.750 setelah sempat bergejolak pada rentang sempit hingga menyentuh angka 4.770 dalam fase konsolidasi.
Sebaliknya, saham BBRI masih terpuruk dengan penurunan 0,92 persen ke level 3.240. Kondisi serupa dialami oleh saham BBCA yang terkoreksi 0,77 persen ke level 6.450 dengan pola pergerakan sideways di area bawah akibat kegagalan beberapa kali upaya kenaikan harga.
Di tengah tekanan sektor keuangan, investor asing justru mengakumulasi saham-saham berbasis energi dan komoditas. PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS) mencatat beli bersih tertinggi senilai Rp 112,8 miliar, diikuti PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) sebesar Rp 112,1 miliar, serta PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) senilai Rp 93,3 miliar.
Likuiditas pasar terpantau tinggi dengan volume perdagangan mencapai 49,44 miliar saham dan total nilai transaksi Rp 18,14 triliun. Menariknya, jumlah emiten yang mengalami penguatan mencapai 440 saham, lebih banyak dibandingkan 240 saham yang melemah dan 141 saham yang bergerak stagnan.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·