IHSG Melesat 2,14 Persen ke Level 7.660 pada 14 April 2026

Sedang Trending 4 hari yang lalu

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melonjak signifikan sebesar 2,14 persen atau bertambah 160,57 poin ke level 7.660,75 pada penutupan sesi pertama perdagangan Selasa, 14 April 2026. Penguatan ini dipicu oleh aksi beli pada saham-saham berkapitalisasi pasar besar dan emiten milik konglomerat di tengah sentimen global yang fluktuatif.

Data Bursa Efek Indonesia menunjukkan sebanyak 513 saham mengalami kenaikan, berbanding terbalik dengan 131 saham yang terkoreksi dan 173 saham stagnan. Nilai transaksi perdagangan mencapai Rp13,60 triliun dengan volume 28,67 miliar saham, yang turut mengerek kapitalisasi pasar nasional menjadi Rp13.670 triliun.

Hampir seluruh sektor industri mencatatkan performa positif, terutama pada sektor infrastruktur dan barang baku, sementara sektor konsumer non-primer menjadi satu-satunya yang melemah. Melansir laporan CNBC Indonesia, emiten seperti DSSA, MORA, BBRI, BRPT, BBCA, BREN, AMMN, dan BMRI menjadi penggerak utama indeks hari ini.

Laju IHSG ini melampaui prediksi MNC Sekuritas yang sebelumnya memperkirakan indeks akan menguji rentang 7.592 hingga 7.856 setelah ditutup pada level 7.500 pada Senin (13/4/2026). Tren kenaikan ini juga didukung oleh masuknya aliran dana asing yang pada akhir pekan sebelumnya mencatatkan beli bersih sebesar Rp194 miliar.

Kenaikan pasar domestik terjadi saat kondisi geopolitik memanas akibat kebuntuan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran yang memicu kenaikan harga minyak dunia di atas US$100 per barel. Militer AS dilaporkan mulai memblokade kapal-kapal Iran di Teluk setelah kegagalan pembicaraan damai di Islamabad.

"Iran tidak akan memiliki senjata nuklir. Kita tidak bisa membiarkan sebuah negara memeras atau mengancam dunia," kata Presiden AS Donald Trump sebagaimana dikutip dari Reuters melalui CNBC Indonesia. Trump menegaskan Washington akan menindak tegas kapal yang mencoba menembus blokade tersebut.

Meskipun tekanan global membayangi melalui jalur finansial dan komoditas, fundamental ekonomi Indonesia dinilai tetap kokoh dengan target pertumbuhan kuartal I-2026 sebesar 5,2 persen. Bank Indonesia terus menyiagakan pemantauan pasar 24 jam dan melakukan intervensi likuiditas terukur di pasar spot maupun Domestic NDF untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah.