Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan hebat dengan koreksi mencapai 2 persen atau turun 138,18 poin ke level 6.767,44 pada perdagangan sesi 2 hari Selasa (12/5/2026). Penurunan tajam ini dipicu aksi jual investor yang menanti pengumuman tinjauan indeks MSCI terkait potensi pengurangan bobot saham Indonesia.
Data perdagangan hingga pukul 14.03 WIB menunjukkan 558 saham melemah, sementara hanya 159 saham yang menguat dan 242 saham stagnan. Nilai transaksi tercatat sebesar Rp9,4 triliun dengan frekuensi mencapai 1,76 juta kali, yang turut menggerus kapitalisasi pasar menjadi Rp12.016 triliun.
Sektor teknologi menjadi beban utama indeks dengan anjlok sebesar 5,07 persen pada penutupan sesi 1, diikuti pelemahan sektor utilitas dan kesehatan masing-masing 2,59 persen dan 2,09 persen. Kondisi ini menempatkan performa IHSG sebagai salah satu yang terburuk di Asia-Pasifik, hanya berada di bawah indeks KOSPI Korea Selatan yang melemah lebih dari 3 persen.
Pasar saat ini fokus pada pengumuman review MSCI yang dijadwalkan keluar hari ini karena adanya kekhawatiran arus keluar modal asing (outflow) jika posisi Indonesia diturunkan. Sepanjang sesi 1 perdagangan Selasa (12/5/2026), investor asing telah membukukan aksi jual bersih atau net sell senilai Rp653,4 miliar di seluruh pasar.
Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi menyatakan pihaknya tetap memantau hasil pengumuman MSCI tersebut di tengah upaya penguatan integritas pasar modal domestik.
"Kalaupun ada penyesuaian jangka pendek, kita melihat ini sebagai short term pain lah. Tapi Insya Allah long term gain," ujar Friderica, Ketua Dewan Komisioner OJK.
Penegasan senilai juga disampaikan oleh pihak Bursa Efek Indonesia (BEI) yang menyadari adanya risiko teknis dari penilaian MSCI jika tidak ada emiten baru yang masuk ke dalam daftar indeks tersebut.
"Kalau itu dilakukan oleh MSCI dan tidak ada saham baru yang masuk dalam MSCI, dalam jangka pendek mungkin saja bobot Indonesia turun. Tetapi itu adalah short term pain untuk long term gain," ujar Jeffrey, Direktur BEI.
Pihak bursa memastikan bahwa langkah reformasi pasar modal akan tetap berjalan secara konsisten guna memperluas standar global. Hal ini termasuk upaya mendorong emiten untuk meningkatkan porsi kepemilikan publik atau free float agar daya saing pasar modal Indonesia tetap terjaga di mata investor internasional.
59 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·