Inalum Peringatkan Risiko Kelebihan Pasokan Aluminium Global Mulai 2033

Sedang Trending 1 jam yang lalu

PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) memproyeksikan potensi kelebihan pasokan atau oversupply aluminium di pasar global mulai 2033 apabila Indonesia memacu kapasitas produksi domestik secara agresif hingga 14 juta ton per tahun. Ancaman ini muncul seiring rencana ekspansi besar-besaran sejumlah produsen dalam satu dekade mendatang.

Dilansir dari Bloombergtechnoz, Presiden Direktur Inalum Melati Sarnita menjelaskan bahwa pertumbuhan kapasitas yang tidak terkendali tanpa penyerapan pasar memadai dapat menekan harga komoditas global. Berbicara dalam acara MetConnex 2026 pada Selasa (12/5/2026), Melati menekankan pentingnya menjaga cadangan bauksit nasional agar tetap mencukupi hingga 50 tahun ke depan.

"Karena itu, ekspansi kapasitas harus diselaraskan secara hati-hati dengan permintaan global, pertumbuhan industri hilir, dan juga pengembangan pasar strategis. Di Inalum, kami percaya pertumbuhan berkelanjutan lebih penting dibandingkan dengan pertumbuhan yang tidak terkendali," kata Melati Sarnita, Presiden Direktur Inalum.

Penegasan mengenai strategi pertumbuhan ini berkaitan dengan data internal perusahaan yang menunjukkan lonjakan suplai aluminium primer Indonesia dari 1,39 juta ton pada 2026 menjadi 4,92 juta ton pada 2035. Sebaliknya, kebutuhan domestik diprediksi hanya tumbuh dari 533.000 ton ke angka 707.000 ton dalam periode yang sama.

Melati juga memberikan peringatan agar pelaku industri mengambil pelajaran dari fenomena sektor nikel, di mana investasi masif yang dilakukan China di Indonesia justru memicu surplus pasokan dunia. Ia menyebut pengelolaan lingkungan, risiko volatilitas pasar, dan keberlanjutan sosial sebagai tiga aspek krusial dalam pembangunan industri ke depan.

"Saya percaya kita perlu belajar dari pelajaran yang kita miliki dari industri nikel. Kita bisa melihat bagaimana perkembangan industri nikel Indonesia memberikan banyak pelajaran berharga bagi kita agar dapat mengembangkan industri aluminium pada masa depan," ujar Melati Sarnita, Presiden Direktur Inalum.

Selain faktor pengelolaan, Indonesia disebut membutuhkan arahan kebijakan yang lebih solid untuk mengintegrasikan seluruh proyek strategis. Hal ini dinilai mendesak bagi perusahaan negara untuk menyelaraskan target mereka dengan agenda pembangunan nasional yang lebih luas.

"Indonesia membutuhkan roadmap pembangunan nasional yang sangat jelas dan terintegrated untuk aluminium. Saya pikir itu adalah pekerjaan rumah kita hari ini, terutama bagi BUMN, karena kita harus menyelaraskan proyek-proyek kita dengan seluruh program nasional," ujar Melati Sarnita, Presiden Direktur Inalum.

Berdasarkan data Fastmarkets, kapasitas produksi alumina saat ini mencapai 9 juta ton per tahun dari pabrik-pabrik yang sudah beroperasi seperti Well Harvest Winning, PT Indonesia Chemical Alumina, dan PT Borneo Alumina Indonesia. Jika 16 pabrik pengolahan yang direncanakan beroperasi penuh, kebutuhan bijih bauksit nasional diperkirakan melonjak hingga 105 juta ton per tahun.

Daftar Kapasitas Smelter Aluminium di IndonesiaNama Perusahaan / ProyekKapasitas Saat Ini (Ton)Potensi / Rencana (Ton)
Inalum250.000600.000
Huachin Aluminium Indonesia500.0001.000.000
Alamtri (Adaro) Kaltara100.0001.500.000
Tsingshan JV Xinfa – Juwan250.000250.000
Tsingshan JV Xinfa – Taijing0 (Operasi 2026)600.000
Tsingshan JV Xinfa – Xianfeng0 (Operasi 2026)250.000
PT Bintan Electrolytic Aluminium0 (Operasi 2026)250.000
Shandong Weiqiao – Harita JV01.000.000
Nanshan01.000.000
East Hope Group02.400.000
CMOC Group02.000.000
Bosai Minerals Group01.000.000
Borneo Alumindo Prima Kaltara01.000.000
Dharma Inti Bersama (Harita)01.000.000
PT Cita Mineral Investindo Tbk.0500.000