New York (ANTARA) - Indeks Kepercayaan Konsumen di Amerika Serikat (AS) naik pada April 2026, meskipun kekhawatiran atas lonjakan harga energi akibat konflik di Timur Tengah terus meningkat, demikian menurut data The Conference Board, Selasa (28/4).
Indeks Kepercayaan Konsumen AS naik tipis ke level 92,8 pada April dari angka revisi 92,2 pada Maret 2026. Indeks Situasi Saat Ini, yang mencerminkan penilaian konsumen terhadap kondisi bisnis dan pasar tenaga kerja saat ini, turun 0,3 poin menjadi 123,8. Sementara itu, Indeks Ekspektasi, yang mengukur proyeksi jangka pendek konsumen terhadap pendapatan, bisnis, dan lapangan kerja, naik 1,2 poin ke angka 72,2.
"Kepercayaan konsumen naik tipis pada April namun secara keseluruhan tidak banyak berubah, meskipun ada kekhawatiran nyata terkait kenaikan harga bensin karena perang di Timur Tengah memicu lonjakan harga minyak mentah Brent. Penilaian konsumen terhadap kondisi bisnis saat ini dan ke depan mengalami sedikit penurunan dibandingkan bulan lalu. Hal ini diimbangi oleh sedikit perbaikan dalam persepsi konsumen terhadap pasar tenaga kerja, baik untuk kondisi saat ini maupun masa mendatang, serta ekspektasi pendapatan, yang sedikit lebih optimistis pada April," kata Kepala Ekonom di The Conference Board, Dana Peterson.
Namun, data berbeda ditunjukkan oleh Indeks Sentimen Konsumen dari Universitas Michigan yang dirilis pada Jumat (24/4). Laporan tersebut justru memberikan gambaran yang lebih pesimistis, di mana indeks merosot ke angka 49,8 pada April dari posisi 53,3 di bulan sebelumnya.
Angka itu menjadi rekor terendah dalam sejarah survei tersebut selama lebih dari 50 tahun, bahkan lebih rendah dari titik terendah sebelumnya di level 50 yang tercatat pada Juni 2022 saat terjadi inflasi tinggi. Sebelumnya, angka awal pada April sebesar 47,6 juga telah mengindikasikan pelemahan yang signifikan.
Para analis mengatakan perang di Timur Tengah mulai memberikan tekanan serius pada perekonomian-perekonomian global.
"Kami belum memprediksi resesi, tetapi ini akan menghambat pertumbuhan dan menaikkan inflasi. Namun, memprediksi secara akurat apa yang akan terjadi selanjutnya adalah hal yang sia-sia," kata Kepala Makro Global di ING, Carsten Brzeski.
Angka kepercayaan konsumen yang beragam ini muncul seiring pasar terus memantau perkembangan diplomatik seputar konflik Iran, serta potensi pembukaan kembali Selat Hormuz, isu yang selama ini melambungkan harga minyak dan berkontribusi pada meningkatnya tekanan inflasi.
Pewarta: Xinhua
Editor: Michael Teguh Adiputra Siahaan
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·