Sektor riil Indonesia menunjukkan kondisi yang masih rapuh meski mencatatkan pertumbuhan positif pada periode Maret 2026. Berdasarkan data Survei Penjualan Eceran (SPE) yang dirilis Bank Indonesia hari ini, 12 Mei 2026, pemulihan ekonomi dinilai belum sepenuhnya stabil.
Bank Indonesia (BI) melaporkan Indeks Penjualan Riil (IPR) Maret 2026 berada di level 256,7 atau mengalami pertumbuhan 3,4% secara tahunan (year on year/yoy). Seperti dikutip dari Bloombergtechnoz, angka ini menunjukkan perlambatan signifikan jika dibandingkan pertumbuhan Februari 2026 yang mencapai 6,5% yoy.
Secara bulanan, angka penjualan eceran memang melonjak 10,3% dibandingkan pertumbuhan Februari yang hanya 4,1%. Namun, kenaikan tajam ini dipandang sebagai dampak musiman akibat momentum Ramadan dan hari raya Idulfitri.
Bank Indonesia memproyeksikan penjualan eceran akan langsung terkontraksi sebesar 10% secara bulanan pada April 2026. Penurunan ini terjadi setelah masa perayaan berakhir, yang menjadi indikasi bahwa konsumsi masyarakat belum benar-benar solid.
Pola belanja masyarakat saat ini cenderung terkonsentrasi pada periode tertentu, bukan didorong oleh kenaikan daya beli yang berkesinambungan. Pertumbuhan pada Maret didominasi oleh kelompok kebutuhan pokok dan aktivitas yang berkaitan dengan Lebaran.
Sektor penopang IPR Maret 2026 secara bulanan meliputi penjualan suku cadang dan aksesori kendaraan yang tumbuh 15,5% yoy. Selain itu, kelompok barang budaya dan rekreasi meningkat 14,8% yoy, sementara makanan, minuman, dan tembakau tumbuh 4,7% yoy.
Lesunya Daya Beli Barang Sekunder
Sebaliknya, sektor yang menjadi indikator kesehatan daya beli jangka panjang justru masih mengalami kelesuan. Penjualan peralatan informasi dan komunikasi terkontraksi hingga minus 26,4% yoy pada Maret, bahkan diprediksi memburuk menjadi minus 27,7% pada April 2026.
Kelompok perlengkapan rumah tangga juga tercatat negatif 3,5% yoy pada Maret. Data ini memberikan sinyal bahwa rumah tangga mulai membatasi belanja barang sekunder dan tersier, serta lebih memprioritaskan kebutuhan pokok, sandang, dan biaya mudik.
Sikap menahan belanja ini umumnya terjadi saat tekanan ekonomi mulai merambah kelas menengah dan sektor informal. Fenomena tersebut dipicu oleh pendapatan yang tidak tumbuh seimbang dengan kenaikan biaya hidup yang terus melonjak.
Risiko Stagflasi dan Tekanan Harga
Kondisi ekonomi saat ini memicu kekhawatiran munculnya risiko stagflasi, yakni situasi inflasi tinggi yang dibarengi dengan pertumbuhan ekonomi yang stagnan. Alarm stagflasi mulai terlihat dari peningkatan ekspektasi harga untuk beberapa bulan ke depan.
"Penurunan diperkirakan terjadi di seluruh kelompok barang, dengan kontraksi terdalam pada kelompok barang budaya dan rekreasi yang diproyeksikan turun 14,1% mtm, diikuti makanan, minuman, dan tembakau sebesar 10,7% mtm, serta peralatan informasi dan komunikasi sebesar 10,9% mtm," sebut Laporan BI.
Survei BI juga menunjukkan Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) untuk Juni 2026 melonjak menjadi 175,6 dari posisi 157,4 pada Mei. Sementara itu, IEH untuk September 2026 turut naik ke angka 163,2.
Kenaikan harga bahan baku, dampak konflik di Timur Tengah, dan harga minyak mentah di atas US$100 per barel menjadi beban tambahan bagi sektor riil. Biaya logistik dan operasional ikut terdampak akibat kenaikan harga bahan bakar nonsubsidi seperti Dexlite dan Pertamina Dex.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·