Tingkat inflasi di Amerika Serikat menunjukkan lonjakan signifikan pada Maret 2026, dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) utama mengalami kenaikan 0,9% dibandingkan bulan sebelumnya. Kenaikan ini menjadi yang tertinggi sejak lonjakan biaya hidup pada tahun 2022, terutama dipicu oleh melonjaknya harga energi, demikian dilansir dari Bloombergtechnoz.
Biaya energi secara keseluruhan tercatat naik 10,9% dalam satu bulan. Lebih spesifik, komoditas energi, tidak termasuk layanan seperti listrik, meroket sekitar 21,3%. Angka ini merupakan kenaikan terbesar yang pernah tercatat dalam sejarah data tersebut.
Sementara itu, IHK inti yang tidak memperhitungkan komponen energi dan makanan, hanya naik 0,2% untuk bulan kedua berturut-turut. Angka ini lebih rendah dari perkiraan median sebesar 0,3% dalam survei Bloomberg. Penurunan harga mobil bekas serta biaya perawatan medis menjadi faktor yang membantu menahan laju indeks inti ini.
Secara tahunan, IHK utama mencapai 3,3%, sedangkan IHK inti berada di level 2,6%. Kedua angka ini masing-masing lebih rendah sepersepuluh poin persentase dari proyeksi awal.
Sejumlah kategori barang menunjukkan adanya pelonggaran tekanan tarif setelah Mahkamah Agung pada Februari membatalkan sebagian besar tarif yang sebelumnya diberlakukan oleh pemerintahan Trump, yang kemudian digantikan dengan tarif sementara 10%. Barang-barang rumah tangga mengalami penurunan 0,2% secara bulanan, dan produk video serta audio turun 0,8%. Namun, harga pakaian justru naik 1,0%.
Pasar keuangan menunjukkan reaksi yang relatif terbatas terhadap rilis data inflasi ini. Hal tersebut menyusul kuatnya laporan ketenagakerjaan AS untuk bulan Maret yang telah dirilis pada pekan sebelumnya. Imbal hasil obligasi Treasury dua tahun awalnya sempat turun ke level terendah sesi, namun kemudian naik sekitar 2 basis poin menjadi 3,78% pada pukul 09.15 pagi. Kontrak berjangka S&P 500 dan Indeks Dolar Spot Bloomberg juga terpantau stabil.
1 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·