Lonjakan inflasi konsumen Amerika Serikat (CPI) ke level 3,8 persen secara tahunan pada April 2026 memicu pergeseran aliran modal ke Bitcoin saat pasar saham Nasdaq terkoreksi hampir 2 persen. Kondisi ekonomi ini mendorong harga Bitcoin bertahan di level 79.787,3 dollar AS pada Kamis (14/5/2026) pukul 16.30 WIB.
Data inflasi AS tersebut merupakan angka tertinggi sejak Mei 2023, dengan kenaikan bulanan sebesar 0,6 persen yang melampaui ekspektasi Wall Street. Kenaikan harga energi sebesar 17,9 persen menjadi kontributor utama, sementara upah riil pekerja di negara tersebut justru mengalami penurunan sebesar 0,5 persen.
Analis Reku, Fahmi Almuttaqi, mengamati dinamika pasar di mana indeks saham S&P 500 turun 0,4 persen dari rekor tertingginya dan saham perusahaan penambangan kripto seperti MARA serta CleanSpark merosot lebih dari 5 persen. Meskipun pasar berisiko tertekan, modal dinilai tetap bertahan di ekosistem kripto dengan beralih ke aset utama.
"Bitcoin sempat swing higher sesaat setelah data CPI dirilis, bergerak searah dengan yield Treasury, bukan searah dengan Nasdaq. Ini menyoroti perilaku harga yang semakin relevan untuk diperhatikan sebagai instrumen diversifikasi dan growth engine dalam portofolio investor," jelas Fahmi, Rabu (13/5/2026).
Penjelasan tersebut didasari pada pergerakan Bitcoin yang cenderung mengikuti imbal hasil obligasi pemerintah dibandingkan indeks teknologi saat sentimen inflasi memuncak. Pasar kini menantikan tiga katalis besar pekan ini, termasuk hearing CLARITY Act di Senat AS untuk menentukan status hukum Bitcoin sebagai komoditas.
Selain regulasi, pergantian kepemimpinan The Fed pada Jumat (15/5/2026) dari Jerome Powell ke Kevin Warsh menjadi perhatian karena sosok Warsh yang dikenal memiliki investasi di aset kripto. Di sisi lain, negosiasi perdagangan antara Amerika Serikat dan China juga sedang berlangsung di Beijing.
Bagi pasar domestik, pelemahan Rupiah hingga melampaui Rp 17.500 per dollar AS menjadi dampak nyata dari tingginya inflasi energi global. Indonesia yang bergantung pada impor BBM menghadapi ancaman defisit APBN dan tekanan daya beli jika suku bunga tinggi bertahan hingga tahun depan.
"Meskipun ini bukan jaminan, data menunjukkan posisi Bitcoin yang semakin strategis, baik sebagai inflation hedge maupun reserve asset di tengah erosi daya beli mata uang fiat," tutup Fahmi.
4 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·